Global Voices Advocacy - Defending free speech online
Showing posts with label Perang pada jaman Nabi. Show all posts
Showing posts with label Perang pada jaman Nabi. Show all posts

Sep 13, 2011

Pertempuran Parit - Februari 627M

Pertempuran Parit

Pertempuran Parit - Februari 627M

Dari Faithfreedompedia

Teror 32 : Pertempuran Parit Dipimpin oleh Muhammad—Februari, 627M




Peta Operasi Perang Parit

Setelah sukses dalam menjarah, kaum Muslim di Medinah merasa aman dan tenteram. Kebutuhan nafkah mereka dipenuhi dari usaha² perampokan ini. Muhammad punya kekuatan militer yang kuat setelah mengusir kaum Yahudi Banu Qaynuqa dan Banu Nadir dari tanah tempat tinggal mereka di Medinah.[136] Akan tetapi, Muhammad selalu waspada karena khawatir atas serangan musuh tiba2. Dan memang kekhawatirannya beralasan karena pihak musuh benar² menyerangnya tidak lama setelah dia dengan bersantai menikmati barang jarahan di tengah kekuatan militernya. Ketika musim dingin tiba, kaum Quraish bersiap-siap untuk menyerang Muhammad. Ini dikenal sebagai perang Parit atau perang Ahzab

(sekutu).Pertempuran ini terjadi di bulan Februari, 627 M (Shawal, AH 5). Alasan utama terjadinya perang ini adalah karena pembersihan rasial Yahudi B. Nadir dari Medina. Setelah pengasingan kaum Yahudi B. Qaynuqa dan B. Nadir dari Medinah, para pemimpin Yahudi yang terusir yakni Salam b. Abi al-Huqayq al-Nadri, Huyayy b. Akhtab al-Nadri, Kinanah b. al-Rabi b. Abi al-Huqayq… dll pergi ke Mekah dan bertemu dengan para pemimpin Quraish dan membentuk persekutuan untuk melawan Muhammad yang mengancam keamanan mereka. Pada mulanya kaum Quraish bersikap ragu akan orang² Yahudi karena agama Yahudi serupa (tapi tak sama) dengan Islam. Mereka bertanya pada orang² Yahudi agama mana yang lebih baik – pagan atau Islam? Kaum Yahudi menjawab agama Quraish (pagan) lebih baik daripada agama baru monotheism milik Muhammad. Jawaban ini menyenangkan kaum Quraish dan mereka tanpa ragu menerima kaum Yahudi sebagai sekutu. Akan hal ini, Allah menurunkan ayat Q 4:51-55, mengutuk kaum Yahudi yang bersekutu dengan kaum pagan dan Dia menjanjikan neraka bagi kaum Yahudi.

Setelah bertemu dengan para pemimpin Yahudi, pihak Quraish bersiap untuk melancarkan serangan hebat kepada Muhammad dan Jihadi fanatiknya itu. Setelah mengadakan perjanjian dengan pihak Quraish, para pemimpin Yahudi bertemu dengan orang² Ghatafan dan beberapa suku di sekitar Mekah dan meyakinkan mereka agar melakukan serangan bersama dengan orang² Quraish. Maka tentara Quraish di bawah pimpinan Abu Sufyan b. Hard dan tentara Ghatafan di bawah pimpinan Uyanah b. Hisn b. Hudhayfah (lihat Teror 31, Bagian 8 ) berbaris menuju Medinah. Beberapa penulis biografi menulis Unayah sebagai pempimpin B. Fazarah, dan suku ini adalah cabang suku Ghatafan.[137] Suku² lain yang bergabung dengan mereka adalah B. Murrah dan Masud b. Rukhaylah dari suku Ashja. Pihak Quraish sendiri membawa 4.000 tentara, 300 kuda, 1.500 unta. Seluruh kekuatan Mekah adalah 10.000 orang. Mereka berbaris dalam tiga kelompok yang terpisah. Komandan utama adalah Abu Sufyan b. Harb. Bendera perang dibawa oleh Uthman ibn Talhah yang ayahnya dibunuh di perang Uhud.[138]

135 Middle march (1827)
136 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud
137 Mubarakpuri, p.363


Tak lama kemudian berita serangan ini didengar oleh Muhammad. Dia benar² tidak siap akan serangan mendadak dari pihak Quraish dan sekutunya. Pengalaman akan Perang Uhud masih segar terbayang dalam benak orang² Muslim. Perang baru melawan Quraish sungguh tidak mereka inginkan.[139] Melihat bahaya ini, Muhammad mengadakan rapat dengan para pemimpin tentaranya yang terpercaya. Dalam rapat ini, Salman yang adalah seorang Persia yang masuk Islam, mengajukan usul untuk menggali parit sekitar Medina untuk melindungi kota itu dari serangan pihak Mekah. Dia tadinya adalah seorang tawanan beragama Kristen dari Mesopotamia, yang dibawa oleh seorang Yahudi dari Bani Kalb. Lalu dia ditebus dan beralih ke Islam. Dia tahu akan teknik mempertahankan diri seperti ini di negara² lain. Ini merupakan teknik bela diri yang baru sama sekali bagi orang Arab dan sebelumnya tidak pernah dilakukan. Muhammad dan para pengikutnya dengan cepat setuju akan usul ini. Pekerjaan yang harus dilakukan adalah menggali parit yang dalam, mungkin sekitar 10 yard 30 kaki lebarnya dan 5 yard (15 kaki) dalamnya dan panjangnya adalah ½ mil [140] di sekeliling kota Medinah. Agar pekerjaan cepat selesai, tugas dibagi dan dilakukan oleh beberapa kelompok keluarga.

Muhammad sekarang mengumpulkan orang2nya untuk menggali parit ini dan meng-iming2i mereka hadiah surga. Saat itu adalah bulan puasa Ramadan dan Muhammad menyewa peralatan gali lubang dari kaum Yahudi B. Qurayzah. [141] Sekitar 1.000 [142] sampai 3.000 [143] Muslim bekerja dari subuh sampai petang untuk menyelesaikan penggalian dan mereka bergabung bersama untuk menghadapi tentara Quraish dan sekutunya yang berjumlah 10.000 orang. Muhammad mulai mengutuki orang² Mekah, mengundang murka Allah atas mereka seperti yang tercantum di:

Hadis Sahih Bukhari, Volume 5, Book 59, Number 415:
Dikisahkan oleh Anas:
Rasul Allah mengucapkan Al-Qunut selama sebulan setelah membungkuk (sembahyang), menimpakan
kesialan atas beberapa suku Arab.

Beberapa orang munafik juga bergabung tapi mereka tidak tekun dan akhirnya meninggalkan pekerjaan kembali ke keluarga mereka tanpa ijin dari Muhammad. Meskipun begitu, yang taat tetap menggali dengan tekad bulat, dan hanya berhenti sekali² untuk bergabung dengan keluarga mereka setelah dapat ijin dari pemimpin rohaninya. Dalam hal ini, Allah menurunkan Q 24:62, memuji para Jihadis sejati dan menjanjikan pengampunaNya. Bagi yang munafik, Allah menurunkan Q 24:63-64, yang menyatakan bahwa Dia tahu apa yang mereka lakukan diam2. Setelah bekerja keras selama beberapa hari (yang lain mengatakan 8 hari), para Muslim yang fanatik menyelesaikan penggalian parit di sekeliling Medinah, lebih awal dari kedatangan bala tentara Mekah. Sekarang mereka benar² puas dengan parit yang baru saja digali atas usul Salman orang Parsi. Setiap keluarga mengakui bahwa Salman adalah bagian dari pihak mereka. Tentang hal ini, Muhammad berkata, “Salman adalah salah seorang dari kita semua, masyarakat dari sebuah keluarga (ahl al-bayt).”[144]

138 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud
139 Muir, vol.iii, ch.17, p.256
140 Hamidullah, p.68
141 Hamidullah, p71
142 Mubarakpuri, p.364
143 Tabari vol. viii, p.8.9


Ahli sejarah Muslim, Tabari dan Ishak [143] mengisahkan cerita yang sukar dipercaya bahwa waktu parit digali, Allah memunculkan sebuah batu putih dari dasar parit. Muhammad dan Salman pergi ke parit itu, lalu menghancurkan batu tersebut dengan kampaknya dan sebuah sinar memancar menyinari dua jalur menuju gunung² hitam Medinah ! Muhammad menerangkan hal ini sebagai tanda dari Allah bagi kemenangan Muslim. Dia bahkan juga menyatakan bahwa kilau cahaya itu menyinari Byzantin dan kekaisaran Khusroo (Kaisar Persia), dan berarti dia (Muhammad) akan menang pula atas mereka. Bualan Muhammad ini membakar semangat para penggali lubang Muslim. Sekarang mereka yakin sekali bahwa Allah telah menjanjikan kemenangan bagi mereka. Kisah lain yang ajaib adalah bertambahnya persediaan makanan ketika jatah makanan tentara Muslim habis seperti yang dikatakan dalam Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 428. Untuk mempersingkat, aku tidak mengutip Hadis yang panjang ini. Sejak awal, para munafik merasa ragu atas pernyataan Muhammad dan mereka berusaha melemahkan moral para Jihadis yang fanatik. Akan hal ini, wahyu Allah turun dalam ayat Q 33:12 yang menyatakan pikiran rusak orang² munafik.
Sekarang penggalian parit sudah selesai di hari ke-8 Dzul Kada (2 Maret 626M) dan tentara Medinah berjaga-jaga di dalam parit. Rumah² di luar kota dikosongkan dan penduduknya ditempatkan di tempat aman di atas rumah² bertingkat duadi dekat parit yang baru saja digali. Selama proses pengosongan ini berlangsung, dilaporkan bahwa tentara Mekad sudah mencapai Uhud. Tentara Muhammad terdiri dari 3.000 prajurit dan ditempatkan di seberang jalan yang menuju Uhud, dengan posisi parit di depan mereka.

Bala tentara Mekah tadinya berkemah di Uhud dan karena tidak menjumpai perlawanan apapun, mereka dengan cepat bergerak ke jalan menuju Medina. Tak lama kemudian mereka tiba di dekat parit yang baru saja digali dan merasa kaget dengan siasat pertahanan Muhammad. Mereka tidak dapat mendekat ke pusat kota Medina. Jadi mereka mulai menyerang dengan panah dalam jarak tertentu.[146]

Di lain pihak, Huyayy b. Akhtab, ketua dari kaum Yahudi B. Nadir yang diasingkan, bertemu dengan Ka’b b. Asad, ketua kaum Yahudi B. Qurayzah, untuk meminta Ka’b membatalkan perjanjian damai dengan Muhammad. Pada mulanya, Ka’b tidak mau menemui Huyayy, tapi akhirnya mau setelah Huyayy tanpa henti memohonnya.

Huyayy memberitahu Ka’b tentang bergabungnya tentara Quraish dan Ghatafan untuk menghadapi Muhammad sekali untuk selamanya dan membujuk Ka’b untuk membatalkan semua perjanjian dengan Muhammad. Dia minta Ka’b untuk mau melakukan itu, dan berjanji untuk memberikan dukungan yang teguh andaikata pihak Ghatafan dan Quraish mundur sebelum menghabisi Muhammad. Pada mulanya, Ka’b ragu² atas permintaan Huyayy, tapi akhirnya setuju setelah Huyayy menjamin jika Ka’b menghadapi kesukaran, maka Huyayy akan bergabung dalam benteng Ka’b sehingga apapun yang terjadi pada Ka’b akan dihadapi Huyayy pula. Setelah itu Ka’b memutuskan untuk tidak melangsungkan perjanjian damai dengan Muhammad dan Huyayy masuk ke dalam benteng kaum Yahudi B. Qurayzah untuk tinggal bersama mereka.

144 Ibid
145 Tabari, vol.viii, p.11 and Ibn Ishak
146 Muir, vol iii, Ch.17, p.259


Ketika berita ini terdengar Muhammad, dia mengirim Jihadisnya yang dipercaya yakni Sa’d b. Muadh dan beberapa orang penting lain untuk memeriksa diam² tentang perkembangan ini. Ketika Sa’d b. Muadh bertemu dengan ketua kaum Yahudi B. Qurayzah Ka’b b. Asad, dia (Ka’b) seketika menghentikan perjanjian dengan Muhammad. Dia menuntut pihak Muslim mengembalikan kaum Yahudi B. Nadir ke tempat asal mereka di dekat Medina. Mendengar ini, Sa’d b. Muadh yang punya hubungan dekat dengan kaum Yahudi B. Qurayzah memperingatkan mereka bahwa hal yang lebih jelek daripada yang terjadi dengan B. Nadir mungkin akan terjadi atas B. Qurayza jika mereka bersikeras untuk membatalkan perjanjian dengan kaum Muslim.[147] Meskipun diancam keras oleh Sa’d b. Muadh, Ka’b tetap tidak merubah pendiriannya.

Maka dengan kecewa Sa’d b. Muadh kembali menghadap Muhammad dan menyampaikan berita jelek ini. Muhammad menganggap ini sebagai pengkhianatan dari pihak B. Qurayzah dan Allah seketika menegaskan hal itu dengan ayat Q 33:20. Akan tetapi, perlu diingat bahwa B. Qurayzah tidak wajib untuk menghormati perjanjian itu jika mereka tidak mau lagi, karena Muhammad di waktu lampau telah berkali-kali membatalkan perjanjian serupa. Lagi pula, kaum Yahudi B. Qurayzah tidak pernah berencana untuk memerangi Muhammad. Mereka hanya tidak mau lagi berpihak pada Muhammad.

Ketika Muhammad mendengar apa yang disampaikan Sa’d b. Muadh, dia merasa gundah tapi tidak menunjukkan perasaannya dan berkata, “Tuhan Maha Besar! Bersukacitalah wahai orang² Muslim!”[148] Ini tentunya dilakukannya untuk membuat tentaranya tetap tenang dan terus bersemangat. Allah dengan cepatnya menurunkan ayat Q 33:10 yang berkata, “Musuh datang dari atas dan dari bawah ...” tentang bahaya ganda (dari atas dan bawah) yang dihadapi kaum Muslim.
Meskipun tidak menunjukkan kegelisahannya, Muhammad benar² takut kalau kalah perang lagi. Dia terus merasa khawatir apabila paritnya dapat dilampaui dan kaum Yahudi akan menyerang dari belakang. Orang² Medina sangat kecewa akan perkembangan ini. Banyak dari mereka yang memohon untuk diperbolehkan pergi untuk mengurus harta bendanya. Mereka menganggap Muhammad lemah dan tak berdaya, mempertanyakan pertolongan ilahi untuk dia dan meragukan janji2nya tentang kekayaan Khusroo dan Caesar. Sekarang mereka merasa takut dengan kemungkinan yang akan terjadi atas kota mereka.[149] Banyak yang menyatakan tidak mau perang dengan menggunakan alasan bahwa rumah² mereka terancam musuh di ayat Q 33:13.

Tentara sekutu Quraish dan tentara Muslim berdiam di posisi mereka selama 20 hari (yang lain menyebut sebulan) berhadapan satu sama lain, berseberangan dengan parit tanpa melakukan peperangan kecuali dengan meluncurkan panah satu sama lain. Di pihak Quraish adalah Khalid b. Walid dan Wahshi, budak Negro Abyssinian Negro. [150]

147 Haykal, Ch. The Campaign of Khandaq and B. Qurayzah
148 Tabari, vol. viii, p.16
149 Haykal, Ch. The Campaign of Khandaq and B. Qurayzah
150 Ibn Sa’d, vol.ii, p.84


Karena mulai merasa tidak sabar dengan keadaan yang berlarut-larut ini, Muhammad mencoba menyogok suku Ghatafan untuk meninggalkan medan tempur. Dia secara rahasia mengirim utusan kepada Uyanah b. Hisn, ketua kaum Ghatafan (atau Fazarah) dan menawarkan 1/3 panen kurma Medina jika dia mau menarik tentaranya meninggalkan medan tempur. Uyanah menunjukkan rasa tertarik untuk menerima bujukan itu dan menawar ½ hasil panen kurma. Akan tetapi ketika Muhammad menyampaikan permintaan tambahan bagian panen kurma dari Unayah ini kepada B. Aws dan B. Khazraj, kedua suku ini menolak dan tidak mau menawarkan apapun bagi Uyanah kecuali pedang bagi kaum Quraish dan sekutunya. Orang kepercayaan Muhammad Sa’d b. Muadh menentang tawaran Muhammad kepada kaum Ghatafan. Dia berjanji untuk tidak menawarkan apapun kecuali pedang dan berkata, “Rasul Allah, kita dan orang² ini dahulu adalah orang² pagan, mempersekutukan Tuhan dan menyembah berhala2, dan kita tidak menyembah atau mengenal Tuhan, dan mereka tidak berharap dapat sebuah pun dari kurma kita kecuali dalam keadaan damai atau karena membeli. Sekarang Tuhan sudah menyatakan Islam bagi kita, membimbing kita pada Islam, dan memperkuat kita melalui engkau, haruskah kita memberikan mereka kekayaan kita? Kita tidak perlu melakukan itu! Demi Tuhan, kita hanya akan menawarkan mereka pedang, sampai Tuhan menghakimi antara kita dan mereka.”[151] Karena itu, Muhammad dengan ragu mengesampingkan keputusannya untuk menyogok Ghatafan.

Di lain pihak, bala tentara Quraish yang meskipun jumlahnya sangat besar itu merasa sangat frustasi dengan pertahanan kuat tentara Quraish. Ketika keadaan berhadap-hadapan ini semakin tidak tertahankan, beberapa orang Quraish, diantaranya adalah Ikrimah b. Abi Jahl (Abu Jahl dibunuh secara brutal di Badr), memerintahkan tentara sekutu untuk mempersiapkan diri untuk menyerang. Dengan perintah ini, mereka mulai maju dan ketika sudah dekat parit, mereka terhadang dengan pertahanan diri para Muslim dengan cara yang unik dan tidak pernah dilakukan sebelumnya di Arabia. Mereka lalu mengadakan serangan umum ke bagian parit yang tidak dijaga kuat. Ikrimah membersihkan bagian parit itu dan melompat ke depan menghadapi musuh. Diantara para Quraish yang menyebrangi parit adalah Amr b. Abd Wudd. Ibn Sa’d [152] melaporkan bahwa Amr berusia 90 tahun! Ali maju ke depan menghadapi musuh. Ketika melihat Amr, Ali mengajaknya untuk bergabung dengan Islam, tapi Amr tidak mau. Lalu Ali menantang Amr untuk bertarung, tapi Amr menjawab bahwa dia tidak ingin membunuh keponakannya (Ali adalah anak dari saudara laki Amr, yakni Abu Talib). Tapi Ali menunjukkan keinginan untuk membunuh Arm, pamannya sendiri. Mengetahui akan hal ini, Amr turun dari kudanya dan menyerang Ali.

Pertarungan terjadi antara Ali dan Amr, dan akhirnya Ali membunuh Amr. Para tentara kawan Amr yang lain jadi panik dan mulai bercerai-berai. Ali berhasil membunuh beberapa orang pagan, melukai parah seseorang yang berhasil meloncati parit, dan orang ini nantinya tewas karena lukanya di Mekah. Seorang pagan Quraish jatuh dalam parit pada saat berusaha untuk meloncatinya. Dia jatuh ke dalam parit yang dalam itu. Para tentara Muslim mengerubutinya dan merajamnya dengan batu. Ketika orang ini menjerit kesakita, Ali turun ke dalam parit dan memenggalnya. Tentara Muslim membawa mayat orang ini ke Muhammad, dan minta ijin darinya untuk menjual mayat itu. Tapi Muhammad melarangnya dan memerintahkan para Jihadisnya untuk melakukan apapun yang mereka maui atas mayat itu. Tidak ada keterangan apa yang dilakukan para Jihadis atas mayat orang pagan itu. Dilaporkan bahwa Wahsi sang budak Negro dengan lembingnya membunuh seorang Jihadis yang bernama al-Tufayl b. al-Numan dan Dirar ibn al-Khattab (saudara Umar?) membunuh seorang Muslim lain yang bernama Kab ibn Zayd.[153] Pihak Quraish tidak berusaha untuk terus menyerang menyeberangi parit pada hari itu, tapi mereka membuat persiapan di malam harinya. Keesokan paginya, mereka melakukan penyerangan besar, tapi serangan mereka tidak banyak memberi hasil. Mereka tidak dapat melampaui parit. Ketua B. Aws yang bernama Sa’d ibn Muadah menderita luka parah di tangannya (atau bahunya menurut Muir [134]) oleh panah. Dia bersumpah untuk membalas B. Qurayzah, karena orang yang memanahnya bersahabat dekat dengan B. Qurayzah. Pihak Quraish kehilangan tiga orang, sedangkan pihak Muslim lima orang.
Tentara Muslim tidak dapat sembahyang hari itu. Mereka terlalu sibuk berperang. Pada malam harinya, ketika pihak musuh kembali ke perkemahan mereka, pihak Muslim berkumpul dan mengadakan sembahyang khusus bagi mereka yang tidak sempat sembahyang.

151 Tabari, vol.viii, p.17
152 Ibn Sa’d, vol.ii, p.83
153 Ibn Sa’d, vol.ii, p.84


Melalui tulisan² Ibn Ishaq dan Tabari, bisa diketahui bahwa para wanita Arab saat itu tidak mengenakan Hijab (kerudung). Ketika perang Ahzab berlangsung sengit, Aisha ada di benteng B. Haritha dan ibu Sa’d b. Muadh ada bersamanya. Aisha tidak mengenakan Hijab ketika Sa’d b. Muadh berjalan melewatinya, mengenakan baju kulit sehingga Aisha bisa melihat seluruh lengan Sa’d b. Muadh.[155]

Pada saat itu, Saffiyah bt. Abd al-Muttalib, yakni bibi Muhammad sedang berada di Fari, benteng milik Hassan b. Thabit, penulis syair Muhammad.[156] Saffiyah melihat seorang Yahudi mengelilingi benteng itu. Ketika Saffiya meminta Hassan b. Thabit untuk pergi ke lantai bahwa dan membunuh orang Yahudi yang mencurigakan itu, Hassan menolak. Karena itu Saffiya turun sendiri dan memukul orang Yahudi itu sampai mati. Dia lalu meminta Hassan b. Thabit untuk melucuti orang Yahudi itu dan mengambil persenjataan dan bajunya sebagai barang jarahan. Hassan b. Thabit menolak melakukan itu karena dia tidak butuh barang jarahan.

Selama masa pengepungan oleh tentara Quraish dan sekutu berlangsung, Muhammad semakin merasa perlu mencari jalan ke luar. Pada saat itu, seorang mata2/agen dobel (bekerja untuk kedua pihak yang bermusuhan) yang bernama Nuaym b. Masud b. Amir dari Ghatafan menghadap Muhammad untuk menawarkan servisnya untuk memata-matai musuh Muhammad. Dia mengaku sudah meemluk Islam dan bisa memberi bantuan dengan menjadi agen dobel. Muhammad menerima tawaran Nuaym dan mengatakan padanya bahwa “perang adalah tipu muslihat”. Dia berkata pada Nuaym, “Kamu hanyalah satu diantara kami semua. Buatlah mereka meninggalkan satu sama lain, jika kamu bisa, sehingga mereka meninggalkan kita, karena perang adalah penipuan.”[157] Ini Hadisnya yang menegaskan pandangan Muhammad bahwa perang adalah usaha penipuan:

Hadis Sahih Bukhari Volume 4, Book 52, Number 269:

Dikisahkan oleh Jabir bin 'Abdullah:
Sang Nabi berkata, "Perang adalah tipu muslihat."
Hadis Sahih Sunaan Abu Dawud, Book 14, Number 2631:
Dikisahkan oleh Ka'b ibn Malik:
Ketika sang Nabi ingin pergi ke suatu tempat, dia selalu berpura-pura pergi ke tempat lain, dan
dia akan berkata: Perang adalah tipu muslihat.
154 Muir, vol.iii, p.263
155 Ibn Ishaq, p.457, Tabari, vol. viii, p.19
156 Tabari, vol.viii, p.22, footnote 113
157 Tabari, vol. viii, p.23


Setelah mendengar perkataan Muhammad yang berpengaruh itu, Nuaym pergi ke B. Qurayzah dan membujuk mereka untuk tidak percaya akan persekutuan antara B. Quraish dan B. Ghatafan. Dia berkata pada mereka jika pihak sekutu menang perang, maka mereka mungkin akan mengambil tanah milik B. Qurayzah sebagai jarahan perang, tapi kalau Muhammad menang, makan pihak sekutu akan meninggalkan B. Qurayzah, membiarkan mereka sendiri menghadapi tentara Muslim yang kuat.
Lalu Nuaym menasehati B. Qurayzah untuk mengambil sandera dari pihak Quraish dan Ghatafan sebagai jaminan keamanan agar mereka mau membantu B. Qurayzah menghadapi Muhammad. Ketua² B. Qurayzah merenungkan yang dikatakan Nuaym dan berpendapat bahwa itu sangat masuk akal.

Setelah bicara dengan kaum Yahudi B. Qurayzah, Nuaym langsung menghadap tentara Quraish dan Ghatafan, dan mengumumkan bahwa dia telah meninggalkan Islam dan Muhammad dan berkata pada mereka bahwa kaum Yahudi B. Qurayzah menyesal dengan apa yang mereka lakukan dan sekarang bergabung bersama Muhammad. Nuaym juga menambahkan bahwa B. Qurayzah menawarkan Muhammad perjanjian bahwa sandera manapun yang mereka ambil dari suku Quraish dan Ghatafan akan mereka berikan pada Muhammad untuk dipancung dan Muhammad tentunya dengan senang hati akan memancung mereka. Berita ini membuat marah orang² Mekah dan mereka percaya setiap kata yang diucapkan Nuaym. Sekarang rasa curiga tumbuh subur dalam pikiran mereka tentang B. Qurayzah, dan mereka mengambil keputusan berdasarkan nasehat Nuaym untuk tidak memberikan sandera manapun yang diminta B. Qurayzah dari mereka.

Pada hari Sabbath petang (yakni malam Jum’at, Sabbath adalah Sabtu menurut tradisi Yahudi), Abu Sufyan mengirim Ikrimah b. Abi Jahl dan sekelompok orang mengunjungi B. Qurayzah untuk meminta kaum Yahudi ke luar dan melakukan perang bersama keesokan harinya (hari Sabtu). Kaum Yahudi menolak bertempur di hari Sabbath dengan mengatakan bahwa ketika mereka dulu melanggar tradisi larangan perang di hari Sabbath, mereka lalu dirubah jadi monyet dan babi.[158] Lagi pula, kaum Yahudi juga menuntut sandera dari kaum Quraish dan Ghatafan sebagai persyaratan untuk mau bersama-sama perang melawan Muhammad.

Ketika berita tentang permintaan sandera ini disampaikan kepada Abu Sufyan dan para pemimpin Ghatafan, mereka merasa kaget dengan tepatnya dugaan yang disampaikan oleh Nuaym. Pihak sekutu berkeputusan tidak mau memberikan satupun sandera untuk B. Qurayzah dan ini pun disampaikan kepada kaum Yahudi B. Qurayzah. Setelah mendengar ini, pihak Yahudi B. Qurayzah merasa yakin bahwa pihak Quraish dan Ghatafan hendak memperdaya mereka andaikata nantinya mereka berhasil menaklukan pihak Muslim. Karena itu kaum Yahudi tidak mau ikut perang, kecuali ada sandera untuk jaminan bahwa pihak sekutu dan mereka menyampaikan keputusan ini pada kaum Quraish dan Ghatafan.

Mendengar ini, pihak sekutu tidak merasa senang. Persediaan makanan mereka mulai surut. Rencana mereka untuk menyerang pihak Muslim dari belakang kota dengan pertolongan B. Qurayza jadi tidak jelas lagi. Setiap hari beberapa unta² dan kuda² mereka mati. Kesusahan mereka bertambah karena udara juga tidak nyaman. Udara dingin, berangin dan hujan terus menerpa perkemahan mereka. Angin keras menjadi badai, menerbangkan panci² masak dan tenda² mereka. Mereka menganggap udara jelek ini sebagai pertanda buruk dan mulai melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya. Dengan banyaknya masalah yang dihadapi, Abu Sufyan tiba² mengambil keputusan untuk membongkar perkemahan dan pulang. Pembubaran pasukan ini dimulai oleh kaum Quraish dan diikuti kaum Ghatafan. Abu Sufyan naik untanya dan memimpin rombongan pergi meninggalkan daerah musuh. Tak lama kemudian, seluruh tentara Quraish menuju Mekah dengan menggunakan jalur melalui Uhud. Di pagi hari, tidak satupun tentara Quraish yang tampak. Seperti biasa, Muhammad mengaku bahwa Jibril telah membawa topan badi dan menyebabkan pihak sekutu Mekah melarikan diri. Ibn Sa’d menulis bahwa ketika Jibril bertemu Muhammad, Jibril berkata padanya, “O! Berbahagialah.” [159] Pesan dari Allah menegaskan hal itu (Q 33:9). Allah menengahi perang ini dengan memasukkan rasa teror dalam hati para kafir melalui angin yang dahsyat dan udara dingin yang menusuk.

158 Ibn Sa’d, vol.ii, p.85

Akan tetapi, alasan sebenarnya pihak Mekah meninggalkan medang perang sama sekali berbeda. Waktu itu adalah awal bulan Dzul Qaedah, yakni bulan pertama dari tiga bulan suci berdasarkan tradisi Arab dan tidak boleh melakukan perang di bulan² suci ini. Pihak Mekah harus kembali dan menunaikan ibadah haji yang akan segera dimulai di Mekah. [160]

Kabar bubarnya persatuan antara tentara sekutu dan B. Qurayzah didengar Muhammad. Dia mengirim pengintai untuk mengetahui kegiatan musuh dengan menjanjikan orang ini surga dan jarahan perang andaikata dia kembali tepat waktu. Atas hal ini Hadis mengatakan:

Hadith Sahih Bukhari Volume 9, Book 93, Number 555:
Dikisahkan oleh Abu Huraira:
Rasul Allah berkata, "Allah menjamin (orang yang melakukan Jihad untuk Allah dan tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali Jihad untuk Allah dan iman akan FirmanNya) bahwa Allah akan menerimanya di surga (mati sebagai martir) atau mengupahi dia dengan hadiah atau jarahan perang yang telah diterimanya dari tempat dia pergi.”

Muhammad harus menjanjikan surga bagi pengintainya karena tidak ada seorang pun yang bersedia jadi sukarelawan untuk mengunjungi perkemahan Quraish dan membawa kembali berita yang sebenarnya. Pada saat ini, rasa takut, lapar dan kedinginan dialami pihak Muslim dan mereka tidak punya keinginan untuk berperang. Sebenarnya, ketika tidak ada yang mau jadi sukarelawan, Muhammad memilih pengintai itu sendiri dan memerintahkannya untuk ke luar dan cari kabar yang sebenarnya. Pengintai itu ke luar dan melihat pembantu Allah (para malaikat) menghukum pihak Quraish dan Ghatafan dengan badai dan udara dingin.

Pengintai ini melihat keberangkatan Abu Sufyan dan pihak sekutu dan membawa berita gembira ini pada Muhammad. Muhammad sangat lega dengan kepergian pihak musuh. Tentara Muslim juga sangat bersukacita di pagi hari, mereka membubarkan tenda² mereka dan kembali ke rumah² mereka. Muhammad tidak mau mengejar tentara Quraish karena bertempur dengan mereka di tempat terbuka akan sangat riskan baginya. Tak lama kemudian dia mengatakan pada kaum Muslim bahwa Allah telah mengirim pesan untuk menyerang B. Qurayza, dengan mengatakan bahwa Jibril datang padanya dengan menyaru sebagai Dihya, orang Kalbit. Segera Muhammad mengirim Bilal untuk mengumumkan ajakan atas seluruh kota untuk bersiap melakukan perang baru.

159 Ibn Sa’d, vol.ii, p.88
160 Hamidullah, p.77


Setelah perang Parit selesai, Muhammad bersumpah untuk jadi semakin agresif dan menyerang duluan dan tidak bertahan. Ini Hadisnya yang menunjukkan Islam adalah agama yang menyerang dan tidak bertahan diri:

Hadith Sahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 435:
Dikisahkan oleh Sulaiman bin Surd:
Di hari Al-Ahzab (kumpulan keluarga) sang Nabi berkata, (Setelah perang ini) kita akan
menyerang mereka (para kafir) dan tidak akan membiarkan mereka menyerang kita."

[Catatan: Hadis ini tidak akan dapat ditemukan dalam versi Sahih Al-Bukhari yang telah disensor dan “dibersihkan”, akan tetapi bisa didapat dalam kumpulan Hadis Sahih Bukhari asli Internet}

Penaklukan Mekah - Januari 630M

Penaklukan Mekah - Januari 630 M

Penaklukan Mekah - Januari 630M

Dari Faithfreedompedia

Teror 72 : Penaklukan Atas Mekah oleh Muhamad — Januari, 630M

Gencatan senjata dlm Islam memiliki preseden penting yg kebetulan disebut Yasser Arafat di Johannesburg setelah menandatangani Perjanjian Perdamaian Oslo dgn Israel. Beberapa minggu setelah Perjanjian Oslo ditandatangani, Arafat pergi ke Johannesburg dan di sebuah mesjid ia membuatpidato dimana ia MEMINTA MAAF, "Apakah anda merasa saya menandatangani dgn Yahudi sesuatu yg menentang aturan Islam?" DIlanjutkannya, "Bukan. SAYA MELAKUKAN SESUATU YG PERSIS DILAKUKAN NABI MUHAMAD saw." Apapun yg dilakukan nabi menjadi preseden. Arafat mengatakan, "Ingatkah anda ceritaHUDABIYAH." Nabi membuat perjanjian dgn Bani Quraish selama 10 tahun. Tapi lalu ia melatih 10.000 tentara dan dalam 2 tahun berbaris menuju kota Quraish, Mekah. Jadi, dlm yurisdiksi Islam, kau hanya diijinkan berdamai selama maximum 10 tahun. Kedua, begitu kau mampu, kau harus memulihkan jihad [baca: membatalkan perjanjian "damai"].

http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=65905
Setelah kekalahan di Mu’tah, Muhammad diam di Medinah selama 2 bulan tanpa melakukan perampokan atau penyerangan yang besar, kecuali beberapa yang disebutkan di Bagian 15. Setelah itu dia menerima berita bahwa seseorang yang berasal dari B. Bakr, yakni suku Quraish, telah membunuh seorang dari B. Khuzaa’h di tempat pengambilan air di Mekah. Suku Khuzaa’h adalah sekutu Muhammad dan dilaporkan bahwa orang yang dibunuh adalah orang Muslim. Penyerangan atas orang Khuzaa’h ini adalah pembalasan dendam atas pertentangan berdarah kedua suku yang bermusuhan itu. Lingkaran saling berbalasan dendam berdarah ini sudah dimulai lama sebelum Muhammad lahir. Akan tetapi dengan adanya perjanjian Hudaibiyah/Hudaybiyah, diharapkan bahwa akhirnya akan terjadi perdamaian di pihak2 yang bermusuhan.

Beberapa orang Quraish juga terlibat dalam perkelahian ini. Muhammad menganggap pertengkaran kecil ini sebagai pelanggaran terhadap perjanjian Hudaybiyah diantara pihak Quraish dan Muhammad. Wakil Khuzza’h yang bernama Amr b. Salim al-Khuzai pergi ke Medinah untuk melaporkan Muhammad akan peristiwa ini dan minta tolong kepadanya. Muhammad tidak tertarik sama sekali untuk menjaga perdamaian. Dia tidak melakukan usaha apapun untuk menengahi pertengkaran ini dengan pihak Quraish. Malah sebaliknya, dia menggunakan pertengkaran sepele ini sebagai alasan bagi kesempatan emas menyerang orang2 Mekah. Pada kenyataannya, setelah perampokan besar2an di Khaybar, Allah telah memberikannya ayat Q 48:27 tentang penaklukannya atas Mesjid Suci – yakni Ka’bah di Mekah. Perkembangan ini membuat Muhammad yakin sekali bahwa inilah kesempatan besar yang dikirim Allah. Setelah mendengar laporang dari wakil B. Khuzaa’h, Muhammad menjanjikan bantuan teguh bagi mereka. Pada saat itu, sebuah awan besar meliputi langit dan Muhammad yang doyan takhayul menganggap ini sebagai tanda bukti janjinya pada B. Khuzaa’h. Sebentar kemudian, kelompok utusan lain yang dipimpin oleh orang Khuzaa’h yang bernama Budayl b. Warqa bertemu Muhammad di Medina. Sekali lagi Muhammad mengucapkan janjinya kepada mereka. Setelah mendengar janji Muhammad lagi, Budayl pergi menuju Mekah.

Pada saat itu, pihak Quraish menyadari kegentingan keadaan dan mereka ingin berbicara dengan Muhammad untuk menjaga perdamaian, mencegah pertumpahan darah dan terus mematuhi perjanjian diantara pihak mereka dan Muhammad. Mereka mengirim Abu Sufyan b Harb untuk berdiskusi dengan Muhammad agar suasana tidak panas lagi. Di perjalanan ke Medinah, Abu Sufyan b Harb bertemu dengan Budyal b. Warqa di Usfan dan Abu Sufyan menanyakan apakah Budyal sudah berdialog dengan Muhammad atau belum. Budyal berbohong pada Abu Sufyan dengan mengatakan bahwa dia belum bertemu Muhammad. Tapi Abu Sufyan dengan cerdik bisa mengamati dari kotoran unta Budayl yang mengandung biji2 kurma (makanan unta khas Medina) bahwa Budayl sesungguhnya telah bertemu Muhammad. Setelah menebak dengan tepat, sekarang Abu Sufyan gelisah karena dia menduga Muhammad hendak melakukan serangan. Abu Sufyan bertekad mencegah pertumpahan darah lebih besar atas pertengkaran kecil yang telah terjadi.

Sewaktu dia tiba di Medinah, Abu Sufyan pertama-tama mengunjungi anak wanitanya yang bernama Umm Habibah bt. Abu Sufyan. Ketika Umm Habibah kembali dari Ethiopia, dia dijadikan istri Muhammad yang ke-9 setelah suaminya mati di Ethiopia. Ketika Abu Sufyan masuk ke kamar anaknya dan hendak duduk di ranjang Muhammad, Umm Habibah melarangnya untuk duduk di situ. Dia memaki Abu Sufyan dan mengatakan bahwa ayahnya sebagai seorang pagan adalah orang najis (kotor) dan tidak pantas untuk duduk di ranjang Muhammad yang suci. Abu Sufyan sangat gusar akan sikap anaknya yang kurang ajar itu dan dia berkata pada Umm Habibah bahwa setan jahat telah merasukinya sejak dia meninggalkan Abu Sufyan dan memeluk Islam.


Kemudian Abu Sufyan datang menghadap Muhammad dan bicara padanya tentang masalah yang dihadapi, tapi Muhammad diam saja dan tidak menunjukkan ketertarikan untuk membicarakan hal itu. Abu Sufyan lalu mendekati Abu Bakr untuk memintanya bicara dengan Muhammad akan hal itu, tapi Abu Bakr menolak. Lalu dia bertemu Umar b. Khattab, tapi Umar mengancamnya dengan perang. Dalam keadaan putus asa, Abu Sufyan pergi menemui Ali ketika Ali sedang bersama Fatimag, anak wanita Muhammad. Anak lakinya yang masih kecil yakni al-Hasan b. Ali juga ada bersamanya. Abu Sufyan memohon pada Ali demi persaudaraan antara mereka untuk jadi penengah dalam menghindari pertumpahan darah. Ali ternyata juga mengecewakan Abu Sufyan dengan mengatakan bahwa Muhammad telah menetapkan keputusan, dan tidak ada penengah yang dapat membuat keadaan berubah. Lalu sebagai usaha terakhir, Abu Sufyan berpaling kepada anak Muhammad yakni Fatima dan berkata [243], “Anak Muhammad, tidakkah kau ingin memerintahkan puteramu ini untuk membawa perdamaian, sehingga dia bisa menjadi pemimpin bangsa Arab untuk selamanya?”

Fatimah menjawab, “Demi Tuhan, puteraku belum cukup dewasa untuk membawa kedamaian diantara para masyarakat, dan tidak ada seorang pun yang dapat melawan keinginan Rasul Allah.” [244] Ketika Abu Sufyan menyadari bahwa tidak ada harapan lagi, dia meminta nasehat pada Ali tindakan apa yang harus dilakukan untuk mendamaikan suasana. Ali kembali mematahkan harapan Abu Sufyan dengan mengatakan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah pikiran Rasul Allah. Dengan perasaan kecewa Abu Sufyan datang ke pertemuan di mesjid dan berkata, “Saudara2, aku di sini untuk berdamai dengan kalian semua.” [245] Setelah menawarkan perdamaian pada orang Muslim, Abu Sufyan naik untanya dan pulang ke Mekah.


Ketika Abu Sufyan tiba di Mekah, orang2 Quraish menanyakan padanya hasil usaha perdamaiannya. Mereka mendengar seluruh cerita bagaimana Muhammad bersikap sangat keras dan bermusuhan. Orang2 Mekah menyalahkan Abu Sufyan karena dia dipermainkan oleh Muhammad.

Setelah Abu Sufyan pergi, Muhammad memerintahkan pengikutnya untuk mempersiapkan diri melakukan suatu penyerangan, tapi merahasiakan tujuan serangan itu. Bahkan Aisha, istri favorit Muhammad, juga tidak tahu tujuan rencana penyerangan itu. Untuk memastikan siapapun tidak tahu rencana dalam pikirannya, Muhammad mengirim sebuah kelompok Jihadi di bawah pimpinan gabungan Abd Allah b. Abi Hadrad al-Aslami dan Abu Qatadah al-Harith b. Ribi, ke Batn. Idam, sebelah Utara Medinah untuk menyerang kafilah Mekah yang melewati daerah itu (lihat Teror 70, Bagian. 15). Dia membuat rencana ini agar orang2 berpikir bahwa tujuan penyerangan adalah ke arah utara, padahal sebenarnya Muhammad sedang merencanakan penyerangan mendadak ke Mekah pada saat orang2 Quraish sedang tidak dalam keadaan siap. Ini memang rencana yang benar2 cerdik dan tak dapat disangkal lagi atas kemampuan Muhammad dalam melakukan teror, penjarahan dan penyerangan. Dia benar2 berhati-hati dalam merencanakan penyerangan ke Mekah ini.

243 Tabari, vol. viii, p.164
244 Tabari, vol .viii, p.165
245 Tabari, vol. viii, p.165



Ketika semua sudah siap, Muhammad memanggil orang2nya dan mengatakan kepada mereka untuk melakukan serangan mendadak ke Mekah. Dia juga mengajak suku2 tetangganya untuk bergabung dengannya menyerang Mekah. Ayat2 keras, pidato yang berpengaruh dan ceramah2 agama yang membangkitkan semangat dilakukan untuk mempersiapkan mental para Jihadis dalam penyerangan ke Mekah. Sewaktu persiapan penyerangan ini dilakukan, seorang Muslim bernama Hatib b. Abi Baltaah mengirim sebuah surat kepada Quraish yang isinya memberitahukan mereka terhadap persiapan Muhammad untuk menyerang Mekah. Seorang budak wanita menyembunyikan surat ini di bawah penutup kepalanya di dalam rambutnya dan pergi untuk menyerahkan surat ini kepada kaum Quraish. Muhammad mendengar kabar tentang kegiatan mata2 Hatib dari surga dan menyuruh Ali b. Abi Talib dan seorang Muslim lain untuk menangkap budak wanita ini. Mereka bergerak cepat dan berhasil menangkap wanita itu. Mereka memeriksa pelana kuda, tapi tidak menemukan apa2. Ketika Ali mengancam untuk menelanjanginya, wanita itu mengambil surat dari rambutnya dan menyerahkannya kepada Ali b. Abi Talib. Lalu Ali menyerahkan surat itu kepada Muhammad. Setelah tahu isi surat ini, Muhammad memanggil Hatib. b. Abi Baltaah dan meminta penjelasan akan tindakannya. Hatib berkata bahwa semua anggota keluarganya masih tinggal di Mekah dan dia ingin memperingatkan mereka agar mereka selamat. Mendengar hal ini Umar menjadi marah dan minta ijin Muhammad untuk memancung kepala Hatib. Tapi Muhammad memaafkan Hatib karena Hatib berperang dengan sengit bagi pihak Muslim di perang Badr. Allah dengan segera menurunkan ayat Q 60:1-4 untuk memaafkan Hatib. b. Abi Baltaah. [246]

Dengan persiapan penuh untuk menyerang Mekah, Muhammad meninggalkan Medinah pada tanggal 1 Januari, 630 M, tapi dia menyembunyikan tujuan pasti keberangkatan ini dari pengikutnya. Beberapa pengikutnya mengira mereka akan menyerang suku Hawazin, beberapa yang lain mengira mereka akan merampok suku Thaqif, beberapa berkata mereka akan menyerang kaum Quraish. Meskipun dia dan pasukannya membawa persenjataan lengkap, dia tidak menunjuk seorang pemimpin militer dan tidak membawa bendera apapun, sehingga tujuan penyerangan ini merupakan teka-teki bagi pengikutnya. Pasukan Muhammad berjumlah sekitar 8.000 sampai 10.000 orang di bawah pimpinan Muhammad yang meninggalkan Medina dengan cepat. Dua orang istrinya yakni Zaynab bt. Jahsh dan Umm Salamah menemaninya dalam perjalanan.

Pada saat itu adalah bulan Ramadan, Muhammad dan para prajuritnya puasa. Ketika mereka tiba di al-Kadid, ketua B. Sulaym yang bernama Uyanah b. Hisn bergabung dengannya. Ketika Muhammad dan pasukannya berangkat pergi, banyak suku2 kecil yang berdiam di daerah sekitar juga bergabung bersama Muhammad. Ketika mereka bertanya padanya tentang tujuan perjalanan itu, Muhammad tidak memberitahu mereka. Dia buka puasa di al-Kadid dan dia mengatakan pada para pengikutnya bahwa mereka boleh melanjutkan puasa atau batal. Lalu dia mendirikan perkemahannya di Marr al-Zahran setelah melakukan perjalanan selama 8 hari. Tentara dari suku2 lain yang berjumlah 1.700 orang juga bergabung dengannya untuk menyerbu Mekah. Sampai saat ini, kaum Quraish belum tahu tentang rencana Muhammad. Di malam hari Muhammad berkemah di Marr al-Zahran, dia memerintahkan setiap Jihadis untuk menyalakan api bagi diri sendiri. Maka 10.000 api menyala untuk menunjukkan kesan pasukan tentara yang luar biasa besarnya. Tak jauh dari sana Abu Sufyan b. Harb bersama Hakim b. Hizam dan Budayl b. Warqa kebetulan juga sedang berada di daerah sekitar untuk mencari tahu tentang gerak-gerik Muhammad.

246 Ibn Ishak, p.545


Ketika Muhammad berhenti di Marr al-Zaharan, al-Abbas b. Abd al-Muttalib menemuinya. Seperti yang telah ditulis di bagian sebelumnya, al-Abbas sebenarnya adalah pengintai bagi Muhammad, dan dia memberitahu Muhammad tentang kegiatan para pasukan Quraish. Sebagai seorang pengusaha sukses dan ahli keuangan, [247] al-Abbas adalah seorang yang cerdas dan pandai dalam berkata-kata. Ketika dia mengetahui tanpa ragu lagi bahwa keponakannya (Muhammad) telah jadi penguasa militer yang kuat, dia bergabung dengannya, tapi merahasiakan hubungan ini dengan kaum Quraish. Muhammad menyambutnya dengan hangat.

Alasan al-Abbas b. Abd al-Muttalib mengunjungi Muhammad adalah untuk menjamin keselamatan orang2 Mekah karena dia takut jika banyak orang Mekah yang dibunuh oleh Jihadi Muslim, maka orang2 Mekah akan hancur sepenuhnya dan ini nantinya akan menghancurkan pula usaha bisnisnya yang berhasil. Dia berkata pada Muhammad bahwa jika dia mendapat jaminan keselamatan itu dari Muhammad, dia akan memberitahu siapapun yang dia temui di jalan agar pesan keselamatan ini terdengar oleh semua orang di Mekah.

Muhammad melanjutkan perjalanan dan tiba di Niq al-Uqh, tempat diantara Mekah dan Medina. Abu Sufyan b. al-Harith b. Abd al-Muttalib (bukan Abu Sufyan b. Harb; Abu Sufyan b. al-Harith adalah saudara sepupu Muhammad dan seorang penyair) dan seorang Quraish ingin bertemu dengan Muhammad. Tadinya Muhammad menolak menemui mereka karena Muhammad menuduh keduanya dahulu menyakiti hatinya ketika Muhammad masih tinggal di Mekah. Ketika kedua orang ini berkata pada Umm Salamah, istri Muhammad, bahwa mereka berdua akan melakukan mogok makan jika Muhammad tidak mau menemui mereka, hati Muhammad yang sekeras batu jadi agak melunak. Mereka berdua menemui Muhammad dan lalu memeluk Islam. Ibn Ishak [248] melapokan bahwa Muhammad dengan geram memukul dada Abu Sufyan b.al-Harith karena dulu dia pun memukul Muhammad. Abu Sufyan b.al-Harith lalu meminta Muhammad agar Allah bersedia menghapus dosanya yang dulu.
Setelah bertemu dengan Muhammad dan mendapat jaminan keselamatan, al-Abbas kembali ke Mekah. Ketika dia tiba di al-Arak dia bertemu Abu Sufyan b.Harb dan Hakim b. Hizam dan seorang Quraish lain yang sedang dalam perjalanan untuk memeriksa keadaan sekitar. Ketika mereka mlihat kobaran api yang dinyalakan oleh para tentara Muhammad, mereka sangat terkejut karena mereka belum pernah melihat jumlah tentara sebanyak itu.

247 Rodinson, p.259
248 Ibn Ishak, p.546



Abu Sufyan bertanya kepada al-Abbas apa yang terjadi, dan al-Abbas memberitahunya bahwa Muhammad bersama 10.000 tentara Muslim akan menyerang Mekah dan jika Abu Sufyan berani datang menghadap Muhammad, maka kepalanya akan dipancung. Karena tidak siap menghadapi serangan Muslim yang dahsyat itu, Abu Sufyan jadi gelisah dan tertekan sehingga dia pun menuruti nasihat al-Abbas. Al-Abbas mempersilakan Abu Sufyan naik keledai bersamanya. Kedua kawan Abu Sufyan yang lain mengikutinya sambil berjalan kaki. Mereka lalu bertemu sekelompok tentara Muslim di daerah perkemahan Umar b. Khattab. Umar segera menyerang Abu Sufyan dengan pedangnya dan mencoba membunuh Abu Sufyan. Karena itu, al-Abbas dengan cepat memacu keledainya untuk melarikan diri dari Umar. Umar mengejar dan mereka semua akhirnya mencapai perkemahan Muhammad. Umar masuk kemah Muhammad untuk minta ijin memancung kepala Abu Sufyan. Al-Abbas mengingatkan Muhammad bahwa dia sendiri telah memberi jaminan keselamatan Abu Sufyan. Karena permohonan al-Abbas, makan Muhammad menyampaikan pesan bahwa dia ingin bertemu dengan Abu Sufyan di pagi hari. Abu Sufyan ditahan dan bermalam dengan gelisah di perkemahan Umar.
Di pagi harinya, Umar membawa Abu Sufyan untuk bertemu Muhammad. Ketika Muhammad menyatakan dirinya adalah utusan Allah, Abu Sufyan mengatakan dia tidak percaya akan hal itu. Al-Abbas dengan cepat memperingatkan Abu Sufyan agar memeluk Islam, kalau tidak kepalanya bisa dipancung Muhammad. Inilah yang dikatakan al-Abbs, “Hati2lah! Katakan pengakuanmu sebelum, demi Allah, dia akan memancung kepalamu.”[249] Karena takut dan ingin menyelamatkan nyawanya, Abu Sufyan tidak punya pilihan dan saat itu juga dia jadi Muslim.

Ada beberapa alasan mengapa Abu Sufyan b. Harb menyerah begitu mudah kepada Muhammad. Sebelumnya, dia telah kehilangan pemimpin tentaranya yang lihai dan dia percayai yakni Khalid b. Walid karena Khalid jadi Muslim dan bergabung dengan Muhammad dalam usaha2 perampokan. Lagipula kaum perampok Jihadis telah menutup jalur perdagangan bagian utara dan selatan bagi kaum Quraish padahal kehidupan mereka tergantung pada kedua jalur perdagangan itu. Keadaan diperburuk karena terjadinya bencana kelaparan besar di Mekah. Dimengerti bahwa bencana kelaparan ini disebabkan oleh Muhammad. Dengan mengambil sumber tulisan ibn Hisham, Hamidullah mengutip, “Ketika Thumamah ibn Uthal, yakni ketua suku Yamamah, atas perintah Muhammad berhenti mengirim suplai gandum, para penulis sejarah mencatat bahwa akibatnya terjadi wabah kelaparan di Mekah.” [250] Karena semua keadaan yang menghimpit ini, Abu Sufyan jadi tidak berdaya dan dia menyerah pada Muhammad untuk menyelamatkan nyawa penduduk Mekah dari ancaman pembantaian oleh tentara haus darah yang sudah siap untuk menyerang Mekah.

Lalu al-Abbas meminta Muhammad untuk memberi Abu Sufyan keringanan karena dia telah memeluk Islam. Muhammad berkata, “Baiklah, siapapun yang masuk rumah Abu Sufyan akan aman; siapapun yang masuk tempat perlindungan itu tidak akan dicelakai; dan siapapun yang mengunci dirinya di dalam rumah akan selamat.” [231] Dalam jaminan keamanan ini, tempat perlindungan yang dimaksud adalah Ka’abah. Meskipun begitu, Hadis Sahih Muslim menuliskan bahwa biarpun telah mengucapkan janji itu, Muhammad tetap saja memerintahkan bahwa siapapun yang berada di atas puncak gunung Safa harus dibunuh. Ini Hadisnya.

Hadis Sahih Muslim: Book 019, Number 4396:
Dikisahkan atas kuasa Abdullah b. Rabah yang berkata:

Kami bertemu dengan Mu’awiya b. Abu Sufyan sebagai seorang utusan dan Abu Huraira ada diantara kami. Setiap orang dari kelompok kami menyiapkan makanan bagi kawan2nya secara bergiliran tiap hari. Ketika tiba giliranku, aku berkata, “Abu Huraira, hari ini adalah giliranku. Maka mereka datang ke tempatku. Makanan belum siap disajikan, jadi aku berkata kepada Abu Huraira, “Aku harap kau bersedia menceritakan padaku kisah dari Rasul Allah sampai makanan selesai disajikan.” (Dengan menyetujui permintaanku) Abu Huraira menjawab, “Kami sedang bersama Rasul Allah pada hari penaklukkan Mekah. Dia menunjuk Khalid b. Walid sebagai pemimpin pasukan sayap kanan, Zubari sebagai pemimpin pasukan sayap kiri, dan Abu ‘Ubaida sebagai pemimpin pasukan infanteri (yang sedang melaju) ke daerah dalam lembah. Dia lalu berkata, “Abu Huraira, panggilah kaum Ansar menghadap padaku.” Lalu aku memanggil mereka semua dan mereka datang dengan segera. Dia berkata,”Wahai kalian orang Ansar, kau lihat para bajingan bajingan orang Quraish itu?” Mereka berkata, “Ya.” Dia berkata,”Maka, kalau kau bertemu mereka besok, musnahkan mereka semua.”
Dia menunjukkan hal ini dengan tangannya, diletakannya tangan kanannya di atas tangan kirinya dan berkata, “Kalian akan bertemu dengan kami di as-Safa’.” (Abu Huraira melanjutkan): Siapapun yang dilihat mereka pada hari itu akan dibunuh. Sang Rasul Allah naik ke gunung as-Safa’. Kaum Ansar juga tiba di sana dan mengepung gunung itu. Lalu datanglah Abu Sufyan dan berkata, “Rasul Allah, kaum Quraish sudah kalah. Tiada seorang pun dari kaum Quraish yang akan selamat hari ini.” Rasul Allah berkata, “Siapapun yang masuk rumah Abu Sufyan akan selamat, yang meletakkan senjata akan selamat, yang mengunci pintunya akan selamat.” (Beberapa) orang Ansar berkata, “(Akhirnya) Orang itu (Muhammad) goyah jadi lembut terhadap sanak saudara dan rasa cintanya akan kotanya sendiri.” Mendengar hal ini, datanglah inspirasi illahi kepada Rasul Allah. Dia berkata, “Kau berkata bahwa orang itu goyah jadi lembut terhadap sanak saudara dan rasa cintanya akan kotanya sendiri. Tahukah kalian siapa namaku? Aku adalah Muhammad, orang jaminan Tuhan dan RasulNya.” (Dia mengulangi kalimat ini tiga kali). “Aku meninggalkan tempat asalku karena Allah dan menggabungkan kalian. Sehingga aku akan hidup bersamamu dan mati bersamamu.” Sekarang orang2 Ansar berkata, “Demi Tuhan, kami berkata begitu karena keserakahan kami akan Allah dan RasulNya.” Dia berkata, “Allah dan RasulNya bersaksi padamu dan menerima permohonan maafmu.”
Setelah masuk Islam dan mendapat jaminan keselamatan dari Muhammad, Abu Sufyan segera mendahului tentara Muslim masuk Mekah dan mengumumkan jaminan keselamatan dari Muhammad kepada semua orang2 Mekah. Orang2 Mekah yang ketakutan langsung masuk ke dalam rumah2 mereka atau menuju ke tempat perlindungan yakni Ka’abah. Banyak pula yang masuk ke rumah Abu Sufyan untuk menyelamatkan nyawa mereka dari serangan orang2 Muslim.

249 Hamidullah, p.80
250 Tabari, vol. viii, p.173
251 Tabari, vol. viii, p.173



Setelah Abu Sufyan dan Hakim b. Hizam pergi, Muhammad mengirim al-Zubayr yang membawa bendera Muslim dan memerintahkannya untuk menancapkan tiang bendera itu di bagian atas daerah Mekah (yakni di sebelah gunung utara) dan memerintahkannya untuk tidak beranjak dari situ. Muhammad masuk ke Mekah dari tempat itu.

Muhammad memerintahkan Khalid b. Walid dan orang2 yang baru saja memeluk Islam seperti kaum B. Sulaym, Qudaah, dll untuk masuk Mekah melalui daerah yang lebih rendah dari Mekah (yakni bagian selatan jalan raya ke Yaman). Ini adalah daerah B. Bakr. Meskipun Abu Sufyan menyerah, beberapa pemimpin Quraish yang lain di bawah pimpinan Ikrimah b. Abi Jahl tidak mau membiarkan kaum Muslim masuk Mekah tanpa perlawanan. Maka mereka mengumpulkan orang dari B. al-Harith b. Abd Manat dan orang2 Ahabish dan beberapa suku kecil lain yang merupakan bagian dari Mekah untuk melawan tentara Muhammad. Khalid b. Walid ditunjuk untuk melawan orang2 ini. Muhammad memerintahkannya untuk hanya memerangi mereka yang melawannya. Pasukan Ikrimah bertarung melawan pasukan Khalid, tapi kalah sehingga Ikrimah b. Abi Jahl melarikan diri bersama beberapa pasukannya. 24 orang pagan (atau 28 menurut Muir) dibunuh. Ini adalah satu2nya pertempuran yang terjadi di Mekah. Akan tetapi, sebagian tentara al-Zubayr mengambil jalur terpisah dari yang ditentukan Muhammad. Mereka menutup jalur barat ke arah pantai yang dikenal sebagai jalan Kada. Jalur2 timur dan utara ditutup oleh tentara2 Muhammad. Jadi Mekah diserang dari 4 penjuru sehingga tentara Quraish sukar melarikan diri. Meskipun sudah dikepung seperti itu, tentara al-Zubayr bertemu dengan beberapa tentara Quraish di Kada dan pihak Quraish berhasil membunuh beberapa tentara Muslim.

Lalu Muhammad masuk Mekah lewat tempat al-Zubayr menancapkan benderanya. Hari itu adalah tanggal 11 Januari, 630, 10 hari setelah Muhammad meninggalkan Medinah. Banyak orang2 Mekah yang mengelilinginya untuk memeluk Islam. Muhammad tinggal di Mekah selama setengah bulan. Ketika Muhammad masuk Mekah, dia memberikan pengampunan bagi seluruh penduduk Mekah kecuali bagi 8 orang (atau 10 menurut Ibn Sa’d [252]). Dia memerintahkan agar orang2 ini dibunuh bahkan walaupun mereka bersembunyi di bawah tirai Ka’abah. Sebenarnya menumpahkan darah di tempat suci itu sangatlah dilarang bagi kaum pagan. Muhammad ingin mempertahankan tradisi ini, tapi keinginannya untuk membalas dendam lebih kuat sehingga dia menyatakan bahwa Allah mengijinkan hanya untuknya untuk menumpahkan darah di tempat suci untuk beberapa jam saja. Ini Hadis Sahih Bukhari tentang hak khusus bagi Muhammad untuk menumpahkan darah di tempat suci.
Hadis Sahih Bukhari, Volume 3, Book 34, Number 303:
Dikisahkan oleh Ibn Abbas:

Rasul Allah berkata, “Allah membuat Mekah sebagai tempat suci dan tidak diijinkan seorangpun sebelumnya atau sesudah aku (untuk berperang di tempat itu). Dan [[berperang diperbolehkan bagiku untuk beberapa jam dalam satu hari khusus saja]]. Tidak seorang pun boleh mencabut semak2nya yang berduri atau memotong pohon2nya atau mengejar maksudnya atau memungut Luqata (benda2 yang jatuh – nya kecuali oleh orang yang akan mengumumkan hal ini secara umum.” 'Abbas bin 'Abdul-Muttlib meminta kepada sang Nabi, “Kecuali Al- Idhkhir, bagi tukang2 emas kami dan atap2 rumah kami.” Sang Nabi berkata, “Kecuali Al-Idhkir.” ‘Ikrima berkata, “Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan mengejar maksudnya? Itu berarti memindahkannya dari kegelapan dan duduk di tempatnya.” Khalid berkata, “(‘Abbas berkata: Al Idhkir) bagi tukang2 emas dan kuburan2 kita.
252 Ibn Sa’d, vol. ii, p.165


Nafsu amarah Muhammad berkobar-kobar terutama bagi orang-orang Mekah yang murtad dari Islam. Inilah daftar orang2 Mekah yang diincar untuk dibunuh oleh Muhammad:


1. Abd Allah b. Sa’d
Dosa Abd Allah b. Sa’d adalah murtad setelah memeluk Islam. Dia adalah juru tulis Muhammad, tapi tak lama kemudian dia menyadari akal2an Muhamad yang mengaku dapat ilham illahi, sehingga dia lalu meninggalkan Islam dan kembali ke Mekah. Ketika Muhammad ingin orang membunuh Abd Allah. B. Sa’d, dia melarikan diri kepada Uthman, yang merupakan saudara angkatnya. Ketika ribut2 kedatangan pasukan Muhammad ke Mekah telah mereda, Uthman membawa Abd Allah ibn Sa’d kepada Muhammad untuk minta diampuni. Ketika Uthman meminta Muhammad menunjukkan belas kasihan kepada Abd Allah ibn Sa’d, dia (Muhammad) diam untuk waktu yang lama sebelum akhirnya berkata, ‘baiklah.’ Setelah Abd Allah ibn Sa’d berlalu, pengikut2 Muhammad bertanya mengapa dia berdiam diri lama sekali. Muhammad menjawab bahwa sikap berdiam diri itu maksudnya agar pengikutnya berdiri dan membunuh Abd Allah ibn Sa’d. Lalu seorang Ansar bertanya kepada Muhammad mengapa dia tidak langsung saja memberi isyarat untuk membunuh Abd Allah ibn Sa’d. Muhammad menjawab, “Seorang nabi tidak membunuh dengan menggunakan isyarat.” [253]


2. Abd al-Uzza b. Khatal or Abd Allah ibn. Khatal
Kesalahan Abd Allah ibn. Khatal adalah dia membunuh budaknya ketika budak itu tidak memasak makanan baginya (Catatan: membunuh budak tidak dianggap sebagai tindakan kriminal serius di jaman itu). Lalu Abd Allah ibn. Khatal melarikan diri ke Mekah dan meninggalkan Islam. Dia memiliki dua orang gadis yang biasa bernyanyi satir (ejekan) bagi Muhammad. Muhammad memerintahkan kedua gadis ini dan Abd Allah ibn. Khatal dibunuh. Ketika diketahui bahwa Abd Allah ibn. Khatal bersembunyi di dalam tirai Ka’ba, kedua Jihadis yakni Said b. Hurayth al-Makhzumi dan Abu Barzah membunuh Abd Allah dengan merobek perutnya. [254]

3. Satu dari kedua gadis penyanyi Abd Allah yang bernama Fartana juga dibunuh.
4. Gadis penyanyi yang lain berhasil melarikan diri.

Tentang pembunuhan gadis penyanyi, Sunan Abu Daud menulis Hadis ini:

Sunaan Abu Dawud: Book 14, Number 2678:
Dikisahkan oleh Sa'id ibn Yarbu' al-Makhzumi:
Sang Nabi berkata: di hari penaklukkan Mekah, ada 4 orang yang tidak akan kuampuni di tempat suci maupun non suci. Dia lalu menyebutkan nama orang2 itu. Dua gadis penyanyi al-Maqis; yang seorang dibunuh dan yang seorang lagi melarikan diri dan memeluk Islam.

5. Al-Huwayrith

Muhammad menuduh dia menyakiti anak wanita sulung Muhammad yang bernama Zaynab ketika Zaynab berusaha melarikan diri dari Mekah. Atas perintah Muhammad, Ali b. Talib membunuh Al-Huwayrith.

6. Miqyas b. Subabah

Sebelumnya, Miqyas b. Subabah membunuh pembunuh saudara lakinya dan lalu melarikan diri ke Medinah dan murtad (lihat Teror 46, Bagian 12). Muhammad memerintahkan agar dia dibunuh karena kemurtadannya. Numaylah b. Abd Allah lalu membunuhnya.

7. Ikrimah b. Abi Jahl

Ikrimah b. Abi Jahl melarikan diri ke Yemen. Lalu istri Ikrimah memohon kepada Muhammad agar Ikrimah diampuni. Muhammad mengampuni Ikrimah dengan syarat dia kembali ke Mekah dan memeluk Islam. Istri Ikrimah lalu menyusulnya ketika dia hendak pergi melaut ke Ethiopia. Istrinya membawanya kembali ke Mekah. Ikrimah dan istri lalu memeluk Islam guna menyelamatkan nyawa mereka.

8. Sarah

Sarah adalah budak yang dimerdekakan yang tadinya milik anak laki Abd al Muttalib. Muhammad menuduhnya suka menyakiti Muhammad ketika dia dulu masih hidup di Mekah. Dikisahkan kemudian bahwa Muhammad pada akhirnya memaafkan Sarah.

253 Tabari, vol. viii, p.179
254 Ibn Sa’d, vol.ii, p174

Di samping ke-8 orang2 Mekah itu, Ibn Sa’d menulis dua orang lagi yang Muhammad incar untuk dibunuh. Mereka adalah :

9. Habbar b. al-Aswad

Dosa Habbar b. al-Aswad adalah menyakiti anak Muhammad yakni Zaynab ketika dia berusaha meninggalkan Mekah. Habbar b. al-Aswad lalu menyembunyikan diri tapi beberapa bulan kemudian tertangkap. Habbar b. al-Aswad lalu memeluk Islam dan nyawanya diampuni.

10. Hind bt. Utbah, istri dari Abu Sufyan b. Harb.

Hind bt. Utbah mengunyah hati Hamzah yang sudah terbunuh di Perang Badr II (Perang Uhud). Hind lalu memeluk Islam dan Muhammad pun mengampuninya.
Di kemudian hari, Umar membunuh Sarah dengan cara menggunakan kudanya untuk menginjak-injaknya di al-Abtah. Di hari penaklukkan Mekah, Muhammad memerintahkan 6 pria dan 4 wanita dibunuh. Para wanita adalah:

1. Hind bt. Utbah b. Rabiah,

2. Sarah,

budak merdeka yang tadinya milik Amr b. Hashim b. Abd al-Muttalib; dia dibunuh (menurut penulis biografi Muhammad yakni Waqidi) di hari Mekah ditaklukkan.

3. Quraybah;

dibunuh di hari Mekah ditaklukkan

4. Fartana

menyelamatkan diri dari pembunuhan dan terus hidup sampai Kalifah Uthman berkuasa.
Pembunuhan2 atas wanita2 Mekah itu merupakan tamparan di muka Islam yang mengaku sebagai agama yang melarang pembunuhan wanita dalam perang. Kenyataannya, kita bisa kutip dari Sahih Ahadith untuk menunjukkan bahwa pembunuhan wanita dan anak2 dan orang2 tua pagan secara jelas diperintahkan oleh Muhammad. Ini beberapa contohnya:

Sahih Muslim: Book 019, Number 4321:

Dikisahkan atas wewenang Sa’b b. Jaththama bahwa sang Nabi ketika ditanya tentang para wanita dan anak2 pagan yang mati dibunuh di malam penyerangan, menjawab: [[Mereka (wanita dan anak2 itu) adalah bagian dari mereka (masyarakat pagan, sehingga sah saja untuk dibunuh)

Muhamad ternyata melanggar perintah sebelumnya dlm
Sunaan Abu Dawud: Book 14, Number 2664:


Dikisahkan oleh Samurah ibn Jundub:
Sang Nabi berkata: “Bunuh orang2 tua yang berkepercayaan pagan, tapi jangan bunuh anak2nya.”
Setelah pembunuhan dilaksanakan di Mekah, Muhammad lalu menuju sebuah bukit, ke tempat dekat kuburan Abu Thalib, pamannya, dan Khadija, istri pertamanya. Dia mendirikan tenda di sana. Ketika pengikutnya bertanya apakah dia ingin mengunjungi rumahnya yang dulu, dia menjawab, “Tidak.” Bendera besar ditancapkan di pintu tendanya. Sekarang dialah penguasa Mekah.
Tak lama kemudian dia mengendarai al-Qaswa, untanya, dan menuju Ka’abah dan mengitari Ka’abah tujuh kali. Lalu dia memerintahkan pengikutnya untuk menghancurkan patung2 berhala di Ka’abah. Patung berhala besar Hubal di depan Ka’abah dihancurkan. Dikatakan bahwa terdapat 360 patung berhala dalam Ka’abah. Semua patung2 ini dihancurkan di hadapan orang2 Quraish yang terperangah, dan atas agama penuh toleransi yang dikhotbahkan oleh Muhammad, Allah dengan segera menurunkan ayat Q 17:81 yang mengumumkan sirnanya kesalahan dan datangnya kebenaran.
Setelah menaklukkan Mekah dengan sangat mudah dan tanpa banyak pertumpahan darah, Muhammad berdiri di depan pintu Ka’abah dan memuji Allah dan berterima kasih pada Allah karena kemenangan itu. Berasamanya adalah Usama b. Zayd, Uthman b. Talhah dan Bilal, seperti yang ditulis di hadis berikut.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 1, Book 9, Number 483:

Dikisahkan oleh Ibn ‘Umar:

Sang Nabi masuk Ka’abah bersama Usama bin Zaid, 'Uthman bin Talha dan Bilal dan berada di sana untuk waktu yang lama. Ketika mereka ke luar, akulah orang pertama yang masuk Ka’abah. Aku bertanya pada Bilal, “Di manakah sang Nabi sembahyang?” Bilal menjawab, “Diantara dua pilar
depan.”

Allah dengan gesitnya mengirim turun ayat Q 49:13 dan mengumumkan bahwa umat manusia diciptakan sebagai lelaki dan wanita dan Dia menciptakan banyak negara dan suku2 bangsa.
Lalu Muhammad pergi ke rumah Abraham yang berjarak 20 sampai 30 langkah dari Ka’abah dan mengambil kunci Ka’abah dan memberikannya kepada Uthman ibn Talha untuk menjaga Ka’abah secara turun temurun. Al-Abbas ditunjuk untuk menyediakan minum bagi para peziarah. Muhammad lalu menghancurkan gambar2 Abraham dan malaikat2 yang berada di dinding2 Ka’abah. Dia menghancurkannya dengan kedua tangannya sebuah patung merpati terbuat dari kayu dan lalu melemparkannya. Allah cepat2 menurunkan ayat Q 3:67 tentang Abraham yang mensahkan penghancuran yang dilakukan Muhammad atas patung2 berhala dan gambar2. Di ayat ini Allah mengumumkan bahwa Abraham bukanlah orang Yahudi atau Kristen, tapi Hanif (Muslim?) dan Muhammad adalah yang terdekat dengan Abraham.
Ini Hadis tentang penghancuran patung2 berhala Ka’abah.

Hadis Sahih Bukhari, Volume 3, Book 43, Number 658:

Dikisahkan oleh ‘Abdullah bin Masud:


Sang Nabi masuk Mekah dan (di saat itu) terdapat 360 patung2 berhala di sekitar Ka’abah. Dia mulai menusuk-nusuk patung2 berhala dengan tongkat di tangannya dan berkata, “Kebenaran (Islam) telah datang dan Kekeliruan (tak percaya) telah dilenyapkan.”



Setelah itu Muhammad mengumumkan bahwa siapapun yang percaya kepada Allah tidak boleh menyimpan gambar apapun dalam rumahnya dan harus menghancurkan segala patung berhala di dalam rumahnya. Dia menyampaikan khotbah penuh perasaan tentang kedekatan hatinya atas kota Mekah. Para ahli sejarah Muslim menulis bahwa khotbah ini berhasil menarik hati dan pikiran masyarakat Mekah. Para penduduk Medinah sekarang mulai curiga bahwa Muhammad akan tinggal di Mekah selamanya. Tapi Muhammad menghibur mereka dengan mengatakan dia tidak akan pernah meninggalkan Medina. Lalu dia kembali ke tendanya. Abu Bakr membawa ayahnya yang tua dan buta bernama Abu Quahafa untuk menghadap Muhammad dan dia lalu memeluk Islam di hadapan Muhammad.
Setelah semua patung2 berhala dihancurkan dan disingkirkan, Muhammad memerintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka’abah dan menyuarakan Adhaan – yakni suara panggilan sembahyang. Lalu para Muslim berkumpul dan sembahyang di bawah pimpinan Muhammad.

Lalu Muhammad mengumumkan pengampunan umum bagi masyarakat Mekah. Dia duduk di al-Safa dan Umar b. Khattab mengucapkan sumpah persekutuan orang2 Mekah dengan Islam. Pertama-tama, para pria mengucapkan sumpah, lalu para wanita. Diantara kaum wanita adalah Hind bt. Utbah, istri Abu Sufyan b. Harb. Hind bt. Utbah memakai kerudung untuk menyembunyikan dirinya dan dia khawatir jangan2 Muhammad akan menghukumnya. Ketika dia berjumpa dengan Muhammad, dia minta maaf padanya. Muhammad memaafkannya dan mengikatnya dengan sumpah bahwa dia tidak akan berzinah dan membunuh anak2. Karena Muhammad tidak pernah bersalaman dengan wanita kecuali dengan wanita2 yang diijinkan baginya, pengutaraan sumpah dengan wanita dilakukan dengan cara Muhammad meletakkan tangannya di dalam air dan wanita itu melakukan hal yang sama.

Safwan b. Umayyah, seorang Quraish dan musuh besar Muhammad pergi ke Jeddah untuk menetap di Yaman. Ketika dia mendengar berita kemenangan Muhammad, dia hampir saja bunuh diri dengan terjun ke laut. Orang2 mendekati Muhammad dan menceritakan hal ini kepadanya. Dia mengampuni Umayyah dan memberikan Umayyah sorbannya sendiri sebagai tanda pengampunannya. Umayr pergi dan bertemu Umayyah dan menunjukkan sorban Muhammad itu kepada Umayyah. Muhammad memberi waktu 4 bulan bagi Umayyah untuk mengambil keputusan masuk Islam atau mati. Akhirnya Umayyah masuk Islam. Istrinya yang bernama Fakhitah bt. Al-Walid juga jadi Muslim.

Ibn Sa’d [255] menulis bahwa Muhammad juga mengunjungi rumah Umm Hani (yang juga dikenal sebagai Hind bt. Abu Talib), yang adalah saudara sepupunya dan melakukan sembahyang kemenangan di sana. Umm Hanni lalu memeluk Islam dan suaminya pun melakukan hal yang sama. Dua saudara ipar Umm Hani yang menganut agama pagan dan tidak suka akan Muhammad tinggal di rumah Umm Hani. Ali ingin membunuh kedua orang ini, tapi Umm Hani memohonkan ampun kepada Muhammad bagi kedua saudara iparnya itu. Ditulis bahwa Muhammad memberi mereka pengampunan dan merekapun memeluk Islam.

Wahsi, sang budak Abyssia yang membunuh Hamza, melarikan diri ke Taif dan akhirnya dia pun dapat pengampunan.

Muhammad sangat murah hati kepada masyarakat Mekah. Dia melakukan hal ini untuk keuntungan bagi dirinya. Para politisi cerdik dalam keadaan serupa juga akan melakukan hal yang sama, yakni memberikan pengampunan umum. Sikap murah hatinya mengakibatkan banyak masyarakat Mekah yang mendukungnya. Dalam waktu dua minggu, 2.000 orang Mekah memeluk Islam.

Muhammad lalu menikahi Mulaykah bt Dawud al-Laythiyaah. Sebelum mengawini Mulaykah, Muhammad membunuh ayahnya. Ini diceritakan padanya oleh istri2 Muhammad. Salah satu istri2 Muhammad datang kepada Mulaykah dan berkata padanya, “Apakah kau tidak malu menikahi pria yang membunuh ayahmu?” [256] Karena itu Mulaykah yang muda dan cantik meninggalkan Muhammad. Dikisahkan bahwa Muhammad membunuh ayah Mulaykah di hari dia menaklukkan Mekah.

Sejarawan Muslim seringkali memuji-muji kemurahan hati Muhammad kepada masyarakat Mekah. Mereka juga memuji bahwa tidak ada pertumpahan darah. Akan tetapi, sejarah menunjukkan bahwa demi keuntungan Muhammad sendiri dia harus menaklukkan Mekah tanpa pembunuhan besar2an. Jika dia melakukan genosida dan menjarah seperti biasanya dilakukannya, maka dia tidak akan dapat banyak dukungan orang2 Mekah. Muhammad tahu itu. Selain itu diapun berasal dari suku yang sama dengan orang2 Mekah. Dia punya banyak hubungan saudara dengan orang2 itu, dan ini membuktikan kebenaran pepatah ‘darah lebih kental daripada air’.

255 Ibn Sa’d, vol.ii, p.179
256 Tabari, vol. viii, p.1
87

Kita juga bisa menyangkal bahwa penaklukkan ini tidak mengucurkan darah sama sekali. Sejumlah kecil pagan telah melawan dan dalam pertempuran mereka dan beberapa Muslim juga terbunuh. Disamping itu, Muhammad di kemudian hari terus-menerus mengirim pasukan demi pasukan untuk menghancurkan suku manapun di sekitar Mekah yang menolak Islam. Lebih2 lagi, dua tahun setelah dia memberikan pengampunan umum kepada masyarakat Mekah, dia membatalkan pengampunan ini sewaktu dia mengirim dua utusannya yakni Abu Bakr dan Ali untuk mengumumkan kepada kaum pagan di Mekah bahwa mereka akan menghadapi hukuman mati jika tidak masuk Islam (Q 9:5 yang dikenal sebagai ayat pedang membatalkan pengampunan apapun yang diberikan kepada kaum pagan Mekah).
Meskipun begitu, harus diakui kecerdikan Muhammad dalam menaklukkan tempat yang nantinya jadi pusat Islam terbesar yakni Mekah. Orang memang perlu dedikasi, kekejaman, kelicikan, kecerdikan dan di atas semuanya pengabdian pada paham fasisme mutlak yang ditunjukkan oleh Muhammad untuk jadi biang teroris atau penguasa militer.

Banyak Jihadi yang tidak senang dengan jatah jarahan yang mereka terima. Mereka menggerutu dan Muhammad harus pinjam duit dari orang2 kaya Quraish untuk memberi upah 50 Dirham (sekitar US$250) sampai 2.000 Dirham setiap Jihadis yang ‘membutuhkan’ itu [257]. Akhirnya di hari penaklukkan Mekah, Muhammad membuat peraturan bahwa Muslim wajib untuk melakukan Jihad (perang agama) terhadap non-Muslim di mana pun mereka diminta melakukan itu. Ini beberapa Ahadith yang menjelaskan sifat keharusan dari Jihad: 257 Rodinson, p.262

Hadis Sahih Muslim: Book 020, Number 4597:

Dikisahkan berdasarkan wewenang dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasul Allah berkata di hari penaklukkan Mekah: Tidak ada Hijrah sekarang, tapi yang ada adalah Jihad (perang demi Islam) dan ketulusan tujuannya (untuk dapat upah besar); jika kau diminta untuk melakukannya (dalam perang demi Islam) kau harus bersedia melakukannya.

Hadis Sahih Bukhari: Volume 4, Book 52, Number 42:
Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas:
Rasul Allah berkata, "Tidak ada Hijrah (pindah dari Mekah ke Medinah) setelah penaklukkan (Mekah), tapi Jihad dan tujuan tulus tetap berlaku, dan jika kau dipanggil (oleh pemimpin Muslim) untuk berperang, pergilah segera.

Sahih Bukhari: Volume 4, Book 52, Number 311:
Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas: Sang Nabi berkata, di hari penaklukkan Mekah, "Tidak ada Hijrah (setelah penaklukkan), tapi (yang tetap ada adalah) Jihad dan tujuan tulus, dan jika kau dipanggil untuk melakukan Jihad, kau harus segera melakukannya."

Sep 12, 2011

Pembersihan Etnis Yahudi Banu Nadir/Nadr di Medinah oleh Muhammad — Juli, 625M

Pembersihan etnis Yahudi Banu Nadir/Nadr di Medinah oleh Muhammad

Pembersihan Etnis Yahudi Banu Nadir/Nadr dari Medinah oleh Muhammad — Juli, 625M

Dari Faithfreedompedia


Teror 28: Pembersihan Etnis Yahudi Banu Nadir/Nadr dari Medinah oleh Muhammad — Juli, 625M
[A SINA: Muslim vs Bani NADR (Uhud 625M & Khaibar 628M

Kaum Yahudi B. Nadir tinggal di tanah subur tak jauh dari Medinah. Mereka adalah kaum Yahudi yang makmur, menguasai tanah pertanian yang luas dan menanam perkebunan kurma di tanah itu. Mereka merupakan sekutu suku B. Amir. Seperti yang telah disebut di Bagian 7, Muhammad hendak bertemu dengan Yahudi B. Amir untuk minta ganti uang darah dari mereka atas pembunuhan 2 orang B. Amir yang dibunuh karena salah sangka oleh pembunuh bayaran Amr b. Umayya al-Damri.

Jadi Muhammad dan beberapa pengikutnya, termasuk Abu Bakr, Ali dan Umar mengunjungi daerah tempat tinggal B. Nadir, yang letaknya 2 sampai 3 mil dari Medinah dan meminta ketua B. Nadir untuk membayar ganti uang darah yang telah Muhammad bayar kepada B. Amir. Para Yahudi B. Nadir menerima Muhammad dengan hormat dan memintanya duduk. Mereka mendengarkan dengan seksama atas permintaannya dan setuju untuk memenuhi permintaan Muhammad. Mendengar bahwa B. Nadir dengan cepat menyatakan setuju untuk membayar, Muhammad merasa sangat tidak senang. Sebenarnya dia berharap agar kaum Yahudi B. Nadir menolak permintaannya, sehingga dia punya alasan bagus untuk menyerang mereka dan merampas tanah dan harta benda mereka.[124]

Setelah setuju dengan permintaan Muhammad untuk mengganti uang darah, orang2 Yahudi B. Nadir pergi ke ruang lain untuk berdiskusi diantara mereka sendiri. Hal ini membuat Muhammad merasa takut. Waktu itu dia sedang duduk di dekat tembok rumah, dan dia mengira orang2 Yahudi B. Nadir sedang merencanakan untuk membunuhnya. Dia menuduh orang2 Yahudi ingin membunuhnya dengan menjatuhkan batu dari atas rumah. Seperti biasanya, dia berpura-pura malaikat Jibril memberitahu dia akan hal itu.[125] Maka dia tiba2 berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu, seperti ingin cepat2 buang air [126] dan meminta yang lain, termasuk Abu Bakr, Umar dan Ali tidak meninggalkan tempat itu sampai dia kembali. Ketika kawan2nya menunggu lama dan Muhammad tetap juga tidak kembali, mereka pergi mencari dia. Dalam perjalanan ke Medina mereka bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa dia melihat Muhammad menuju Medina. Ketika mereka bertemu Muhammad di Medina, dia mengatakan pada mereka tentang persepsinya bahwa B. Nadir merencanakan untuk membunuhnya dan memerintah orang2 Muslim bersiap untuk menyerang B. Nadir.

Dengan keinginan jelas untuk melakukan perang dan merampas harta benda Yahudi dalam pikirannya, Muhammad memerintah salah satu pembunuh bayarannya yakni Muhammad ibn Maslamah (Ingat? Orang inilah yang membunuh Ka’b b. Ashraf, lihat Teror 17, Bagian Lima) untuk pergi menghadap orang2 Yahudi B. Nadir untuk mengumumkan pada mereka perintah untuk meninggalkan Medinah. Dia memberikan waktu 10 hari bagi orang2 Yahudi untuk meninggalkan Medina dan jika mereka melampaui batas waktu, mereka akan dibunuh – begitulah ancaman dari Muhammad. Orang2 Yahudi B. Nadir kaget ketika mendengar perubahan hati Muhammad yang tiba2 itu. Mereka sukar percaya akan hal ini bisa dilakukan oleh Muhammad yang ngaku2 sebagai utusan Tuhan. Mereka lebih kaget lagi ketika mendengar ancaman itu dikatakan oleh Muhammad ibn Maslamah yang tidak punya permusuhan apapun dengan orang2 Yahudi. Ketika para Yahudi B. Nadir mengatakan keheranan mereka atas sikap Muhammad ibn Maslamah, dia berkata, “Hati telah berubah, dan Islam sudah menghapuskan perjanjian damai yang ada.”[127]

124 Heykal, Ch. B. Nadir
125 Mubarakpuri, p.355
126 Rodinson, p.192



Ketika Abd Allah ibn Ubayy mengetahui keadaan genting yang dihadapi kaum Yahudi B. Nadir, dia mengirim pesan kepada mereka bahwa dia sendiri akan datang dengan bantuan 2.000 tentara Yahudi dan Arab. Tapi kaum Yahudi B. Nadir ingat bahwa orang yang sama ini pula yang menjanjikan bantuan pada kaum Yahudi B. Qaynuqa tapi akhirnya janjinya tidak ditepatinya sendiri. Maka pada awalnya kaum Yahudi B. Nadir mengambil keputusan untuk mengungsi ke Khaybar atau daerah sekitaranya. Mereka mengira mereka masih bisa datang ke Yathrib (Medina) untuk menuai hasil perkebunan mereka dan kembali ke pengungsian mereka di Khaybar. Huyayy ibn Akhtab, ketua B. Nadir, akhirnya mengambil keputusan untuk tidak mengambil keputusan itu. Dia mengirim pesan kepada Muhammad bahwa kaum Yahudi menolak perintahnya dan masuk ke dalam benteng mereka dan mengumpulkan bahan makanan sampai cukup untuk waktu setahun dan bersiap-siap untuk mempertahankan diri mereka sendiri. Jadi tidak ada seorang pun Yahudi yang meninggalkan Medina sampai batas waktu 10 hari lewat. Muhammad sekarang punya alasan kuat untuk menyerang kaum Yahudi.

Begitu Muhammad ibn Maslamah kembali ke Medinah dengan berita dari orang Yahudi, Muhammad di mesjidnya segera memerintahkan para Jihadinya untuk mempersenjatai diri dan bergerak untuk mengepung benteng kaum Yahudi B. Nadir. Tentara Muslim yang dipimpin Muhammad mulai berbaris menuju B. Nadir yang sudah berlindung dalam benteng mereka yang kokoh. Pada awalnya, kaum Yahudi menyerang para pengepung Muslim dengan panah dan batu dan bertahan dengan gagah. Meskipun sudah diduga sebelumnya, mereka tetap merasa sangat kecewa ketika bantuan yang dijanjikan Abd Allah ibn Ubayy, atau dari sumber2 yang tadinya dapat dipercaya. Pengepungan berlangsung dari 15 sampai 20 hari, dan Muhammad jadi semakin tak sabar. Akhirnya, agar musuh cepat menyerah, Muhammad melanggar aturan perang Arab dengan memotong pohon2 kurma di sekeliling daerah itu dan membakarnya. Ketika kaum Yahudi protes atas pelanggaran aturan perang itu, Muhammad memohon wahyu spesial dari Allah (Q 59:4) yang dengan segera dikirim turun, yang memperbolehkan penghancuran pohon2 kurma milik musuh. Di ayat ini Allah dengan murah hatinya memberi ijin pada kaum Muslim untuk membabat habis pohon2 kurma: katanya ini bukan penghancuran tapi pembalasan dari Allah dan untuk merendahkan para pelaku kejahatan.[128] Dengan ini pula diperbolehkan untuk membabat ladang pertanian dan membakarnya dalam perang.


Ini Hadisnya:
Hadis Sahih Bukhari, Volume 3, Buku 39, Nomer 519:
Dikisahkan oleh Abdullah:
Sang Nabi memerintahkan pembakaran pohon2 palem suku Bani-An-Nadir dan menebangnya di tempat yang bernama Al-Buwaira.
Penyair Muslim (atau penulis berita perang pada jaman itu) yang bernama Hassan b. Thabit ternyata menikmati penghancuran ladang kehidupan kaum Yahudi B. Nadir dan mengarang syair tentang tindakan biadab para Jihadi. Hassan bin Thabit menuliskan dalam sebuah syair puitis: “Para ketua Bani Lu'ai dengan leluasa melihat api menyebar di Al-Buwaira.”

127 Tabari, vol. vii, p.158-159
128 Ibn Ishaq, p.438



Setelah Muhammad menghancurkan sumber hidup satu2nya milik mereka, B. Nadir merasa tak berdaya dan tidak punya pilihan lain selain menyerah dan meninggalkan tanahnya. Sebagai gantinya, mereka meminta Muhammad agar tidak membunuh mereka. Muhammad menyetujui permintaan mereka dengan syarat mereka hanya diperbolehkan membawa harta benda yang bisa diangkut oleh unta2 mereka. Muhammad juga menuntut kaum Yahudi menyerahkan senjata2 mereka. Kaum Yahudi menuruti persyaratan yang merendahkan ini dan mereka memuati 600 unta mereka dengan harta benda mereka dan lalu pergi dari tanah tempat tinggal mereka. Sebagian dari mereka, termasuk para pemimpin mereka yang bernama Huyey, Sallam dan Kinana pergi ke Khaybar. Sebagian lagi pergi ke Yerikho dan dataran tinggi Syria Selatan. Hanya dua orang dari mereka memeluk Islam dan kedua orang ini memperoleh kembali tanah dan semua harta bendanya.

[Catatan: Hukum Syariah tentang penghancuran barang2 milik musuh mengatakan sebagai berikut: Dalam Jihad diijinkan untuk memotong pohon2 musuh dan menghancurkan rumah2 mereka.[129]

Segera setelah pengusiran kaum Yahudi B. Nadir selesai dilaksanakan, Muhammad mengambil alih pemilikan atas kekayaan mereka dan menjadikannya barang miliknya pribadi yang dapat diperlakukan sekehendaknya. Dia menyatakan bahwa barang jarahan dari B. Nadir adalah milik Allah dan dia[130], tanpa menerapkan hukum pembagian barang jarahan yang biasa sebab barang2 jarahan ini didapatkan tanpa pertempuran. Dia membagi-bagi tanah sesuai dengan pertimbangannya, dan memilih daerah yang terbaik bagi dirinya sendiri. Kemudian sisa tanah yang lain dibagi-bagikan kepada kaum Muhajir (yang hijrah dari Mekah ke Medinah) dan dua orang warga Medinah (Ansar). Dengan begini, kaum Muhajir jadi bisa berdikari dan makmur. Muhammad, Abu Bakr, Umar, Zubayr dan sahabat2 Muhammad mendapat banyak lahan yang sangat bagus. Barang jarahan lain terdiri dari 50 baju perang, 50 perlengkapan perang dan 350 pedang. Karena itu pengusiran kaum Yahudi B. Nadir merupakan sukses pendapatan material yang besar bagi Muhammad. Seluruh Sura 59:al- Hashr berhubungan dengan permasalahan dengan B. Nadir, di mana Allah berkata bahwa kaum Yahudi B. Nadir tunduk karena dimasukkannya teror dalam hati mereka. Teror sebagai hukuman dari Allah menjadi senjata andalah yang sah bagi Muhammad.


Hussain Haykal menulis tentang keberhasilan teror dan penjarahan ini sebagai hadiah terbesar bagi kaum Muslim. Barang jarahan tidak dibagi-bagikan diantara seluruh Muslim tapi dianggap sebagai barang yang dipercayakan kepada kaum Muhajir setelah mengambil sebagian untuk membantu Muslim yang miskin dan kekurangan. Dengan begitu keadaan ekonomi kaum Muhajirun jadi jauh membaik untuk pertama kalinya. Sekarang kaum Muhajirun mempunyai kekayaan yang sama dengan kekayaan warga Medinah.[131]

Hussain Haykal menulis akan hal ini:
Setelah pengusiran kaum Yahudi B. Nadir, Muhammad membagi-bagikan tanah mereka kepada kaum Muhajir dan dengan ini mereka merasa sangat puas dengan tanah mereka yang baru. Kaum Ansar pun sama puasnya karena mereka tidak lagi harus menyokong dana bagi kaum Muhajir.[132]

Dengan hasil penjarahan ini Muhammad menjadi orang yang amat kaya raya di Medinah dan kaum Muhajir sekarang punya tempat tinggal permanen bagi hidup mereka.

129 Reliance of the Traveler, law o9.15, p.604
130 Ibn Ishaq, p.438
131 Heykal, Ch. B. Nadir
132 Haykal, Ch. Between Badr and Uhud



Sampai saat keluarnya kaum Yahudi B. Nadir dari Medinah, sekretaris Muhammad adalah orang Yahudi. Muhammad memilih dia karena ketrampilannya dalam menulis surat dalam bahasa Ibrani, Syria dan Arab. Setelah pengusiran B. Nadir, Muhammad tidak percaya lagi terhadap non-Muslim untuk menulis suratnya. Karena itu dia meminta Zayd ibn Thabit, seorang Medinah muda, untuk belajar dua bahasa dan menunjuknya sebagai sekretaris untuk semua hal. Zayd ibn Thabit inilah yang nantinya mengumpulkan ayat2 dan dijadikan satu buku Qur’an pada jaman kalifah Abu Bakr dan Uthman. Muhammad juga mengaku bahwa kekayaan B. Nadir adalah hadiah spesial dari Allah untuknya. Dia menjual jarahan barang2 B. Nadir untuk membeli peralatan perang, kuda2, menafkahi istri2nya dan menggunakan barang2 milik B. Nadir untuk kebutuhan istri2nya. Ini Hadis Sahih Bukhari tentang hal tsb.:
Hadis Sahih Bukahri, Volume 6, Book 60, Number 407:
Dikisahkan oleh Umar:
Harta benda milik Bani An-Nadir merupakan sebagian barang jarahan yang diberikan Allah pada RasulNya (karena) barang2 jarahan seperti itu tidak didapat dari peperangan yang dilakukan kaum Muslim, atau dengan pasukan berkuda, atau dengan pasukan berunta. Jadi barang2 ini adalah milik Rasul Allah saja, dan dia menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan tahunan para istrinya, dan menggunakan sisa dana untuk membeli persenjataan dan kuda sebagai peralatan perang yang digunakan untuk Tujuan Allah.
Ini Hadis Sunaan Abu Daud tentang hak tunggal Muhammad akan barang jarahan milik B. Nadir, Fadak dan Khaybar:

Hadith from Sunaan Abu Dawud, Book 19, Number 2961:
Dikisahkan oleh Umar ibn al-Khattab:
Malik ibn Aws al-Hadthan berkata: Salah satu pertentangan yang diajukan Umar adalah bahwa dia berkata bahwa Rasul Allah menerima tiga hal bagi dirinya sendiri: Banu an-Nadir, Khaybar dan Fadak. Kekayaan Banu an-Nadir dimiliki semuanya bagi kebutuhannya yang semakin banyak, Fadak bagi para pengelana, dan Khaybar dibagi oleh Rasul Allah dalam tiga bagian: dua untuk kaum Muslim, dan satu sebagai sumbangan bagi keluarganya. Jika ada yang sisa setelah disumbangkan bagi keluarganya,
dia membaginya diantara para Emigran (Muhajir) yang miskin.
Sekali lagi kita melihat bahwa terorisme memberi banyak kekayaan bagi Muhammad dan pengikutnya para Jihadis yang fanatik.

Banyak ahli Islam yang seringkali mengatakan: “Tidak ada paksaan dalam agama” (Q 2:256) untuk menunjukkan kebebasan beragama dalam Islam. Akan tetapi mereka dengan cerdiknya menghindari konteks penggunaan ayat ini. Ayat ini berhubungan dengan anak dari orangtua Muslim yang dibesarkan oleh orang2 Yahudi B. Nadir. Ini terjadi karena di jaman itu, orang2 Muslim yang kesulitan punya anak biasa bersumpah bahwa jika Allah memberi mereka anak, maka mereka akan menyerahkan anak2 mereka untuk dibesarkan oleh kaum Yahudi. Ketika Muhammad melakukan pembersihan rasial kaum Yahudi B. Nadir, orangtua2 Muslim dari anak2 ini bertanya padanya apa yang harus mereka perbuat dengan anak2 mereka. Muhammad memperbolehkan anak2 ini untuk tetap jadi Yahudi dengan berkata, “Tidak ada paksaan dalam agama.” Karena itu pula, ayat 2:256 tidak ada hubungannya dengan kebebasan beragama sama sekali. Ini Hadisnya:
Hadith Sunaan Abu Dawud, Book 14, Number 2676:
Dikisahkan oleh Abdullah ibn Abbas:
Ketika anak2 dari seorang wanita (jaman pra-Islam) tidak selamat (meninggal dunia), dia bersumpah atas dirinya sendiri jika anak2nya dapat terus hidup, dia mau menjadi Yahudi. Ketika Banu an-Nadir diusir (dari Arabia), terdapat beberapa anak2 Ansar diantara mereka. Mereka (para Ansar) berkata:
Kami tidak mau meninggalkan anak2 kami. Jadi Allah yang Maha Tinggi menyatakan, “Tidak ada paksaan dalam beragama. Kebenaran tampak nyata (berbeda) dari kesalahan.”

Teror 29 : Serangan atas B. Ghatafan di Dhat al-Riqa oleh Muhammad — Oktober, 625M

Setelah pengasingan atas kaum Yahudi B. Nadir, Muhammad tinggal di Medinah selama dua bulan. Dia menerima berita bahwa beberapa suku B. Ghatafan sedang berkumpul di Dhat al Riqa untuk tujuan yang mencurigakan. Ghatafan adalah suku Arabia, keturunan dari Qais.[133]. Muhammad memimpin tentaranya menuju Nakhl untuk menyerang B. Muhamrib dan B. Thalabah, cabang suku Ghatafan. Operasi militer ini disebut sebagai Dhat al-Riqa’ (gunung tambal) karena gunung di mana peristiwa ini terjadi punya warna bertambal hitam, putih dan merah di permukaannya. Muhammad melakukan serangan mendadak pada mereka dengan kekuatan 400 (atau 700) tentara. Kaum Ghatafan lari ke gunung2, meninggalkan kaum wanita mereka di tempat tinggalnya. Tidak terjadi pertempuran tapi Muhammad menyerang tempat tinggal mereka dan membawa semua kaum wanita termasuk seorang gadis yang sangat cantik.[134] Ketika waktu sembahyang tiba, kaum Muslim takut jika orang2 Ghatafan akan turun gunung dan melakukan serangan mendadak ketika mereka sembahyang. Dalam menangani rasa takut ini, Muhammad memperkenalkan ‘sembahyang dalam waktu bahaya’. Diatur agar beberapa tentara menjaga tentara lain yang melakukan sembahyang. Setelah selesai, yang tadi berjaga mengambil giliran sembahyang. Jadi sembahyang umum dilakukan dua kali. Sebuah wahyu datang dari Allah (Q 4:100-102) tentang mempersingkat waktu sembahyang
.
Ketika Muhammad sedang beristirahat di bawah naungan sebuah pohon di Dhat al-Riqa, seorang pagan datang padanya dengan maksud untuk membunuhnya. Orang itu memainkan pedang Muhammad dan mengarahkan pedang itu padanya sambil bertanya apakah Muhammad merasa takut atau tidak. Muhammad mengaku bahwa Allah akan melindunginya dan dia tidak takut sama sekali. Orang pagan itu lalu menyarungkan pedang dan mengembalikannya pada Muhammad. Atas kejadian ini, Allah mengeluarkan Q 5:11, yang menyatakan perlindunganNya atas Muhammad saat ada orang yang bermaksud mengambil nyawanya. Setelah 15 hari kemudian, Muhammad kembali ke Medinah. Tapi dia merasa tidak tenang. Dia menduga orang2 B. Ghatafan akan menyerang mendadak untuk mengambil kembali kaum wanita mereka.

133 Dictionary of Islam, p.139 
134 Ibn Sa’d, p.74


Anehnya, Sirat (biografi Muhammad) tidak menulis sama sekali tentang apa yang terjadi atas para tawanan wanita Ghatafan itu. Aku mencari informasi akan hal ini dari berbagai sumber Islam yang terkemuka, tapi mereka semua membisu bagaikan ikan. Jika aku harus mengikuti hukum2 Islam, maka aku sangat yakin bahwa kaum wanita ini akan dibagi-bagikan kepada kaum Jihadi untuk dinikmati atau dijual sebagai budak2 untuk mengumpulkan dana bagi perang sebagaimana hukum barang jarahan berlaku.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money